Mengapa Harus Punya Peta Hidup

  • Bagikan

Peta hidup atau seringkali dikenal dengan istilah Life Mapping ini merupakan teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan. Peta hidup akan memberikan kesan yang mendalam, memberikan kejelasan arah kehidupan, sehingga menghasilkan visi dan misi hidup yang membuat kehidupan manusia lebih dinamis.
Peta hidup akan memudahkan kita mengenali siapa diri kita sesungguhnya. Sudahkah kita bersungguh-sungguh merenungkan tentang siapa diri kita sesungguhnya ? Dimanakah letak kita dalam kurun waktu sejarah peradaban di muka bumi ini ? Apa peran kita sebagai makhluk di jagad raya ini ? Apa tujuan hidup kita ? Perenungan-perenungan itu penting kita lakukan untuk mengetahui sejatinya diri kita.
Dale Carnegie mengingatkan betapa spesialnya diri kita. Tiap-tiap kita adalah sesuatu yang sama sekali baru di muka bumi ini. Tidak ada seorangpun yang pernah ada dan yang akan ada persis seperti kita. Kita ini adalah produk dari keturunan, lingkungan, dan masa lalu. Betapa banyak anugerah yang diberikan Allah kepada kita. Maukah kita menjual mata kita seharga satu juta, satu milyar atau satu trilyun? Bagaimana dengan otak, pendengaran, hati, jantung, tangan, dan kaki? Kita adalah makhluk dengan nilai tak terhingga dan tidak bisa dihargai dengan uang.
Oleh karena itu, dalam kehidupan yang singkat ini, sangat dapat dipastikan, setiap orang dari kita tak ingin dikatakan menyia-nyiakan kehidupannya. Walaupun bukti konkretnya banyak mengarah pada hal tersebut.
Tujuan Membuat Peta Hidup
Tujuan life mapping adalah mencegah kita bertindak tergesa-gesa dan tak beraturan. Tapi, kadang rencana kita bisa berubah seiring perjalanan kita karena situasi tertentu. Hidup seperti layaknya jalan, ada belokan, putaran, tanjakan, dan lubang. Kita harus mampu mengantisipasi hal-hal tersebut, dan kita juga harus bisa menyesuaikan keadaan ketika ada perubahan jalur.
Membangun peta hidup, pastinya membawa beberapa manfaat yang sangat berpengaruh dalam melejitkan potensi. Menurut Solikhin Abu Izzudin dalam bukunya Zero to Hero mengemukakan beberapa manfaat dari membangun peta hidup, antara lain:
  1. Menjadi modal dasar sebelum melangkah. Yakni sebagai starting point yang menentukan langkah-langkah selanjutnya. “Koreksilah dirimu sendiri sebelum dihisab nanti.”
  2. Memiliki kejelasan apa  yang harus dilakukan. Seperti Abu Hurairah. Ketika menyadari ketertinggalannya dalam berislam, maka ia proaktif “menyertai” seluruh kehidupan Nabi Saw. Ia tidak menyia-nyiakan waktu umurnya yang sudah tua dan tidak menyesali kemiskinannya untuk senantiasa nempel lekat dengan Nabi Saw.sehingga ia dijuluki Abu Hurairah, Bapaknya Kucing, karena perilakunya yang sering dekat pada Nabi kemanapun beliau pergi, bahkan ia membawa sandal Nabi.
  3. Mapping adalah analisis kegagalan yang dituliskan. Ini akan mendidik kita lebih realistis dalam merencanakan sasaran dan merealisasikan tujuan.
  4. Agar memiliki skala prioritas dalam melangkah. Setelah memetakan diri, ditemukan skala prioritas amal yang bisa dilakukan.
    1. Misalnya Bilal bin Rabbah yang menyadari keterbatasan dirinya. Maka ia menentukan suatu amalan yang menjadi wirid atau amalan rutinnya yaitu selalu menjaga wudhu dan shalat sunnah dua raka’at setelahnya. Ibunda Imam Syafi’i menggunakan seluruh hartanya untuk mendidik Imam Syafi’i kecil menjadi ulama besar.
  5. Agar selalu mendayagunakan potensinya tersebut untuk berprestasi sebanyak-banyaknya. DR. Aidh Al Qarni mengatakan, “Orang mukmin tidak dari akal yang senantiasa berfikir, pandangan yang memberi pelajaran, lisan yang berdzikir hati yang bersyukur dan bersungguh-sungguh dalam bekerja.”
  6. Mapping sangat penting untuk mendahsyatkan diri.
  7. Mapping akan berguna untuk mengoreksi kesalahan diri. Apabila semua tahapan sudah dijalani, bisa dicari dimana letak permasalahannya, sehingga mudah melakukan perbaikan
Kenali Tujuan Hidup Anda
Perlu kita tekankan dalam alam bawah sadar kita. Hidup ini adalah bagian antara kelahiran dan kematian. Tentunya kehidupan kita sangatlah singkat dan dibatasi oleh yang namanya kematian. Jika tidak segera menentukan tujuan hidup. Maka yang akan dirasakan hanyalah sebuah kematian. Yang walaupun jasadnya masih hidup, ruh atau jiwanya telah mati. Istilahnya, hidup dalam sebuah kematian.Terlalu banyak dari kita merasa kecil hati dan rendah hati seolah-olah bukan siapa-siapa. Padahal setiap kita adalah spesial. Setiap kita memiliki potensi besar untuk sukses dan berhasil. Asalkan kita mau serius mengenal potensi kita yang sesungguhnya.
Yang perlu dilakukan adalah membedah masa lalu Anda, secara terus terang dan jujur. Ingat-ingat dan kalau perlu tuliskanlah tentang masa kecil Anda, pendidikan, buku yang berpengaruh dalam hidup Anda, hobbi dan prestasi, minat dan bakat, perjalanan-perjalanan yang jauh dan penting, organisasi yang pernah Anda ikuti, pengalaman yang paling berkesan, kegagalan Anda dan lain-lain yang sekiranya penting. Dengan melakukan flashback masa lalu, Anda akan lebih mengenal diri anda, mengetahui dimana anda berada kini dan selanjutnya siap untuk merancang masa depan.
Mengenali diri sendiri adalah hal yang wajib kita lakukan. Semakin dalam kita mengetahui kelebihan dan kekurangan kita serta peluang dan ancaman kita, semakin mudah pula kita mengembangkan diri kita guna meraih capaian-capaian kita. Kita dapat memperkuat sisi positif kita serta mengakali sisi negatif kita dengan memanfaatkan sisi-sisi positif kita. Dengan demikian kita akan mampu mengakselerasi diri dalam hal pencapaian mimpi.
Visualisasikan Impian Anda
Semua mimpi berawal dari hal yang abstrak pada pikiran kita. Semakin abstrak sesuatu, semakin sulit untuk dijadikan konkret. Oleh karena itu, hal pertama yang kita lakukan adalah menjadikannya “sedikit” kokret dengan cara menvisualisasikannya. Banyak cara menvisualisasikan mimpi. Mulai dari menulis, membuat kliping dari koran-koran bekas, menggambar, bahkan dengan membuat video visualisasi mimpi.
Salah satu tips sederhana tapi berdampak yang mudah dilakukan adalah menempel gambar visualisasi mimpi di kamar kita. Usahakan titik lokasi kita menempel adalah titik pertama yang kita lihat setelah kita tersadar dari tidur kita. Pastikan hal yang pertama kali kita lihat setelah terbangun dari tidur adalah gambar visualisasi mimpi kita. Menurut riset di bidang psikologi, hal ini dapat memberikan aura positif kepada diri kita untuk bersemangat meraihnya pada hari itu. Jika ini dilakukan secara konsisten, maka hari-hari kita merupakan hari-hari pencicilan dalam hal pencapaian mimpi kita.
          Kita semua pasti percaya bahwa Allah Maha Adil dan Bijaksana. Dia tidak pernah salah untuk menurunkan rezekinya. Dia tidak mungkin memberikan sesuatu kepada hamba-Nya yang tidak pantas untuk meraihnya. Begitu juga dengan mimpi dan capaian kita. Jika kita tidak pantas, tidak mungkin Allah menurunkannya. Bermimpi akan sia-sia jika kita tidak membarenginya dengan pemantasan diri untuk meraih mimpi tersebut. Untuk itu wajib bagi diri kita untuk meningkatkan kapasitas diri sesuai proyeksi mimpi kita.
          Dalam konteks ini, menurut Arief Munandar adalah 3P. Proyeksi, Proteksi, dan Prestasi. Berawal dari kita memproyeksikan mimpi kita, kita akan mampu fokus dengan memproteksi diri kita dari hal-hal yang tidak berkaitan dengan mimpi kita. Akhirnya, prestasi perolehan mimpi pun dapat kita peroleh.
Bersahabat dengan Orang-Orang Hebat
          Apa yang kita lakukan saat kita mengalami futurisasi semangat dalam menggapai mimpi? Mengurung diri di kamar, mencari hiburan sebanyak mungkin, atau bahkan menyalahkan keadaan? Astagfirullah. Hal-hal tersebut sangat jauh dari cara untuk mendekatkan kita kepada mimpi kita. Mau tahu cara yang paling efektif untuk menyemangati diri kita ? Caranya adalah dengan berkumpul dengan orang-orang hebat yang memiliki visi yang sama dengan kita. Jangan ragu-ragu untuk berbagi proyeksi mimpi kita ke depan dalam komunitas yang berkualitas tersebut. Orang-orang seperti itu adalah tipikal sahabat yang mengingatkan dan menguatkan di saat kita sedang tidak bersemangat meraih mimpi kita.
          Seorang pencapai mimpi dapat diibaratkan dengan pemain sirkus yang melompat-lompat di matras raksasa. Ibaratnya, mimpi kita adalah benda yang berada di ketinggian. Pemain itu berusaha untuk meraihnya dengan melompat setinggi-tingginya. Jika dia gagal, maka dia akan turun ke matras dan kemudian melompat dengan lebih tinggi. Itu dikarenakan kualitas matras sebagai sarana untuk melompat. Bagaimana jika tidak tersedia matras? Pasti pemain tersebut jatuh dan tidak bisa melompat lagi.
          Bergaul dengan komunitas orang hebat merupakan cara kita menyiapkan matras terbaik. Saat kita terjatuh dalam usaha melompat kita menggapai mimpi, maka kita akan dipantulkan kembali oleh matras, yang dalam hal ini adalah sahabat-sahabat kita yang berkualitas. Mereka akan memberi cambuk bagi kita untuk lebih gigih dalam meraih mimpi kita.
Lakukan Evaluasi Pencapaian Mimpi secara Berkala
          Terkadang kita baru merasa bahwa ada yang salah dalam hal pencapaian mimpi kita. Entah itu terkait motivasi yang mendasarinya, cara perolehannya, ataupun hal-hal yang ingin kita capai. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengevaluasi segala hal yang berkaitan dengan pencapaian mimpi kita. Saat kita menemui hal-hal yang anomali, kita dapat lebih tanggap untuk memperbaikinya. Semakin peka kita untuk menemukannya, semakin mudah kita membuat pebaikan-perbaikan dalam hal pencapaian mimpi kita.
Pikirkanlah apa target 6 bulan, 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun untuk masing-masing dimensi hidup anda. Jadi bukan menjadi apa (presiden, menteri, direktur) yang paling penting, tapi lebih penting adalah apa yang Anda hasilkan lewat peran yang Anda jalani. Jabatan atau posisi merupakan instrumen bagi prestasi dan pengabdian Anda.
Impian, rencana, visi tetap akan menjadi rumusan hampa tanpa adanya kesungguhan dalam melaksanakannya. Namun cita-cita pribadi kita hendaknya bukan hanya untuk kita sendiri tapi hendanya memberikan maslahat kepada umat. Dalam sebuah riwayat juga bahwa “keluhuran cita-cita adalah bagian dari keimanan”. Karena orang yang memiliki cita-cita mulia, tujuan yang luhur, tidak akan menjerumuskan mereka dalam kehinaan, dari kemaksiatan dan dari kenistaan.Tentunya kita tidak hanya ingin memiliki cita-cita dunia karena cita-cita akhirat pun tak kalah pentingnya. Berikut ungkapan yang sering kita dengar,”Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kau akan mati esok hari.”
Mapping ala Nabi
          Metode pemetaan hidup pernah dilakukan Nabi saat beliau menjelaskan tentang ajal manusia. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Ibnu Mas’ud ia berkata, Rasulullah membuat gambar segi empat. Di tengah–tengahnya ada garis lurus yang memanjang hingga keluar kotak. Di samping garis tengah ada garis-garis kecil. Lalu Nabi menerangkan,
          “Ini manusia, dan garis persegi itu adalah kurungan ajalnya, sedangkan garis panjang yang keluar batas itu adalah angan dan cita-cita manusia. Garis-garis kecil itu adalah gangguan-gangguan yang selalu menghinggapi manusia. Maka bila ia selamat dari yang pertama, mungkin akan terkena yang kedua, jika terhindar dari yang satu terkena yang lain.” (HR.Bukhari)
                   Memetakan hidup seperti halnya memetakan kondisi diri, positif maupun negative dengan sejujur-jujurnya akan berguna sebagai pengingat visual, sebagai peta untuk belajar, mengorganisasikan ide-idenya, membangkitkan ide-ide orisinil, memicu ingatan dengan mudah dan berguna untuk merencanakan. Cara ini lebih menenangkan, menyenangkan, dan kreatif karena mengaktifkan keseluruhan otak Anda.
    Mapping adalah analisis kegagalan yang dituliskan. Ini akan mendidik kita lebih realistis dalam merencanakan sasaran dan merealisasikan tujuan. Setiap dari kita bisa belajar dan membedah potensi seperti yang dilakukan Khalid bin Walid. Masuk Islam terlambat bukanlah suatu kegagalan baginya. Justru, ia semakin bergairah untuk memberdayakan potensi untuk memberikan yang terbaik untuk menebus dosanya yang telah lalu. Khalid bin Walid memiliki keahlian dan strategi berperang yang ulung. Jihad, adalah pencapaian yang sangat diinginkannya.
    Siapa yang meragukan keilmuan dan ketokohan Imam Syafi’i. Beliau adalah salah satu mujtahid besar dan merupakan salah satu imam mazhab yang populer di kalangan umat Islam. Beliau terlahir dalam keadaan yatim dan miskin. Lantas siapakah yang mendidik dan mengarahkan Syafi’i kecil sehingga berhasil menjadi ulama besar jika bukan ibunya?
    Catatan fantastis ditorehkan Imam Syafi’i yang telah hafal Alquran pada usia yang masih belia, yaitu 9 tahun. Prestasi spektakuler tersebut juga tidak terlepas dari kontribusi ibunya yang sering mengurung Imam Syafi’i di suatu kamar hingga Imam Syafi’i bisa bertambah hafalannya meski hanya satu ayat. Imam Syafi’i telah hafal Alquran pada usia 9 tahun, suatu kemampuan yang luar biasa dan di atas rata-rata bagi kebanyakan orang.
    Kisah mengharukan antara Imam Syafi’i dengan ibunya terjadi ketika dirinya ingin merantau demi menuntut ilmu. Ketika usia Imam Syafi’i masih di angka 14 tahun, beliau menyampaikan hasratnya kepada ibunya yang sangat disayangi tentang niatnya untuk menambah ilmu pengetahuan dengan cara merantau. Akhirnya, meski dengan berat hati, ibunya mengizinkannya disertai dengan linangan air mata dan doa restu saat melepas kepergiannya, dengan harapan Syafi’i kecil kelak menjadi sosok yang kaya akan ilmu pengetahuan.
          Kisah Ibu syafi’i jelas menunjukkan betapa besar visinya untuk menjadikan anaknya sebagai penghafal Quran yang hebat. Peta hidupnya jelas. Hingga tak heran, jika pada saat anaknya meraih kesuksesan. Tak lain dan tak bukan, kesuksesan itu adalah bagian dari kesuksesan Ibu Imam Syafi’i.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *