STRATEGI PENGUATAN SOFT SKILL MELALUI PERBAIKAN MINDSET DAN BELIEF

  • Bagikan

PENDAHULUAN

Perspektif manajemen sumber daya manusia yang paling mendasar adalah asumsi keberhasilan sebuah kinerja organisasi dipengaruhi oleh tindakan dan peran manajemen sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh organisasi. Organisasi dapat menjadikan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan komitmen pegawainya sebagai kunci sukses dalam menghadapi persaingan, dimana pemilihan strategi organisasi akan berkaitan erat dengan sumber daya manusia sebagai pelakunya karena sebaik apapun strategi yang direncanakan untuk digulirkan oleh suatu organisasi bila tidak didukung oleh sumberdaya manusia yang qualified dan handal maka tidak akan menghasilkan kinerja yang efektif. Sumber daya manusia memberikan tenaga, pikiran, bakat, kreatifitas serta usaha mereka kepada organisasi.
Manajemen sumber daya manusia didasari pada suatu konsep bahwa setiap pegawai adalah manusia bukan mesin dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis. Manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan organisasi, karena manusia adalah faktor produksi yang dapat mengelola faktor produksi organisasi yang lainnya termasuk manusia itu sendiri sehingga manusia menjadi perencana, pelaku dan penentu terwujudnya tujuan organisasi. Tujuan organisasi ini tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif dari pegawai, meskipun organisasi memiliki faktor produksi lainnya dengan baik, seperti modal yang besar, tegnologi yang canggih, dan lain-lain. Semua itu tidak akan memberikan manfaat bila tidak disertai dengan sumber daya manusia yang berkualitas.
Dalam diagnosis pengembangan organisasi bahwa kemajuan dan keberhasilan organisasi sangat tergantung pada aspek hard skill dan soft skill nya. Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak sekedar memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skill nya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill. Berbagai tulisan di jurnal mengemukakan hal yang sama, bahwa 20% kesuksesan seseorang diperkirakan berasal dari intelegensia yaitu kemampuan untuk belajar dan memahami. Sementara itu, 80% sisanya berasal dari kemampuan untuk memahami diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain.
Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Para ahli manajemen percaya bahwa bila ada dua orang dengan bekal hard skill yang sama, maka yang akan menang dan sukses di masa depan adalah dia yang memiliki soft skill lebih baik. Mereka adalah benar-benar sumber daya manusia unggul, yang tidak hanya semata memiliki hard skill baik tetapi juga didukung oleh soft skill yang tangguh.
Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft skill bukan sesuatu yang stagnan. Kemampuan ini bisa diasah dan ditingkatkan seiring dengan pengalaman kerja. Ada banyak cara meningkatkan soft skill. Salah satunya melalui learning by doing. Selain itu soft skill juga bisa diasah dan ditingkatkan dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar manajemen. Meskipun, satu cara ampuh untuk meningkatkan soft skill adalah dengan berinteraksi dan melakukan aktivitas dengan orang lain.
Soft skill adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (inter personal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intra personal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal. Masih terdapat kemampuan tambahan seseorang diluar dari interpersonal skillsdan intra personal skills yang disebut ekstra personal skillsseperti kemampuan seseorang dalam spritual inteligence (SQ). Contoh softskill adalah pribadi dan perilaku interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia misalnya, pelatihan, pembentukan tim, pengambilan keputusan, inisiatif. Contoh lain dari keterampilan-keterampilan yang dimasukkan dalam kategori soft skills adalah integritas, motivasi, etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, tahan banting, kompetisi, ulet, dan lainnya.
 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian soft skill yaitu kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (inter personal skills) dan kemampuan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri (intra personal skills) serta kemampuan tambahan seseorang dalam kepercayaan/kepedulian baik terhadap penciptanya maupun orang lain (ekstra personal skills). Keterampilan-keterampilan tersebut umumnya berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Sifat soft skills meliputi nilai yang dianut, motivasi, perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap. Sifat ini dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh kebiasaan berfikir, berkata, bertindak dan bersikap. Tapi, sifat ini dapat berubah jika individu tersebut mau mengubahnya dengan cara berlatih dan membiasakan diri pada hal-hal yang baik dan positif.

MEMPERBAIKI SOFT SKILL DENGAN PERBAIKAN MINDSET  DAN BELIEF
Mindset adalah pola berfikir yang di miliki manusia dalam merespon suatu peristiwa yang di hadapi dalam kehidupannya. Jika pola berfikirnya positif maka responnya akan positif. Pola berfikir ini di peroleh dari keseluruhan aktivitas manusia dari apa yang di lihat, di dengar dan di rasakan sejak sejak kecil hingga usianya saat ini. Pola berfikir yang semakin kuat dalam merespon suatu peristiwa akan menjadi belief atau keyakinan yang tidak mudah untuk di rubah. Secara teoritis belief didefinisikan sebagai penerimaan akan kebenaran sesuatu pemahaman oleh pikiran bahwa sesuatu adalah benar dan nyata dan keyakinan seseorang bahwa sesuatu itu baik dan benar. Dengan kata lain belief adalah sesuatu yang di yakini kebenarannya.
Secara singkat ada beberapa hal yang menciptakan terjadinya sebuah belief system yang mengakar kuat dalam diri manusia. (1). Terbentuk karena adanya informasi yang berulang-ulang (repetisi), sehingga akhirnya menembus critical area dan masuk ke pikiran bawah sadar. (2). Terbentuk karena informasi yang disampaikan oleh figur yang dipandang kompeten (tenaga pengajar, pakar, ilmuwan) atau memiliki otoritas (orang tua, kakak, guru, pemimpin, orang kaya dll) (3). Terbentuk karena Informasi yang diterimanya merupakan identifikasi yang diberikan dari keluarga atau kelompok sosialnya. Hal-hal yang dipercayai oleh keluarga atau kelompok sosial lain dari seseorang akan mudah diterima pula bagi pikiran bawah sadar tersebut. (4). Terbentuk karena Informasi yang diterimanya diberikan lewat suasana emosional yang tinggi dan mendukung (senastional feeling). Hal ini mudah ditemui pada kegiatan orasi yang dilakukan dengan emosional, seminar motivasi yang menggugah, semangat, kegiatan family gathering yang menggembirakan dan lain-lain. (5). Terbentuk karena informasi diterima dalam keadaan alpha (relaks) sehingga mengakibatkan kondisi hipnosis. Dalam hal ini tentu telah kita ketahui bersama, pada kondisi hipnosis kita mudah menerima sugesti. Yang lebih digaris bawahi adalah kondisi hipnosis yang terbentuk secara tidak sengaja, misalnya menerima informasi saat kita menjelang tidur dan sebagainya. Dalam kondisi ini sebuah informasi tersebut mudah masuk ke pikiran bawah sadar dan menjadikannya sebagai sebuah sugesti yang tidak disengaja.
Maka untuk merubah sistem belief ini, agar pegawai menjadi lebih efektif dan produktif sehingga tidak sekedar baik tetapi hebat dan produktif maka perusahaan harus memiliki aktivitas rutin positif yang di lakukan secara berulang-ulang (reptition) sehingga menjadi budaya organisasi, misal membangun kebiasaan jika bertemu dengan sesama pegawai di mulai dengan senyum, sapa dan salam. Kemudiaan tetap melaksanakan rapat secara on time walau belum semua yang hadir. Kemudiaan adanya kegiatan rutin yang bersifat membangun hubungan emosional dan spritual pegawai bisa berupa pengajian atau arisan rutin pegawai, dll.
Berikutnya karena sistem belief juga terbentuk dari adanya Informasi yang diterima oleh figur yang dipandang memiliki otoritas, maka para pimpinan harus memiliki kharisma dan keteladanan yang baik sehingga setiap ucapan dan tindakan pimpinan yang positif, akan masuk ke dalam otak bawah sadar pegawai yang berujung menjadi prilaku positif pegawai. Banyak kegagalan pembentukan karakter positif pegawai karena pimpinan tidak memberikan contoh yang baik kepada pegawainya.
Kemudian sistem belief yang terbentuk dari pengaruh otoritas sosial/kelompok, maka perusahaan harus dapat menciptakan suasa lingkungan kerja yang positif dan produktif, ini akan berpengaruh kepada seluruh prilaku pegawai untuk bekerja lebih efektif dan produktif. Sebagaimana mengapa tidak ada orang yang berani melanggar traffic light di jalan-jalan di Singapura karena semua orang punya kesadaran yang tinggi terhadap ketertiban berlalu lintas sehingga berpengaruh kepada yang lain. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku individu, ini di buktikan dengan percobaan yang di lakukan terhadap kutu anjing. Kutu anjing dapat melompat 100 x tinggi badannya, namun ketika di letakkan di dalam kotak korek api selama Dua minggu maka kemampuan melompatnya menjadi jauh berkurang, karena setiap dia melompat ada bagian yang mengahalanginya. Jika kita membuat lingkungan kerja kita korup, tidak disiplin, tidak produktif, tidak menghargai waktu, maka semua orang akan berprilaku sama. Ini yang menyebabkan prilaku manusia dapat berubah sesuai dengan kondisi lingkungannya karena adanya pengaruh dari otoritas sosial.
Sedangkan merubah belief pegawai dari aktivitas sensational feeling adalah dengan memberikan kegiatan-kegiatan training motivasi yang menggugah, kegiatan family gathering yang membahagiakan, memberikan perhatian yang dalam dan emosional kepada pegawai, apakah saat ulang tahun, sakit, melahirkan atau adanya keluarga yang mendapatkan kemalangan. Jika perasaan bahagia itu muncul dari kebersamaan yang terjadi perusahaan tersebut, maka pegawai akan merasa ingin terus berada di perusahaan tersebut dan mudah untuk di arahkan agar menjadi lebih efektif dan produktif. Terakhir membentuk belief dari kondisi hypnosis, sebenarnya ini hal bisa dilakukan dengan metode hypnotrapisyang di lakukan oleh mereka yang profesional dalam memberikan terapis kepada pegawai yang perlu mendapatkan terapis mentalitas.

LANDASAN TEORI SOFT SKILL
Menurut Pumphrey dan Slatter (2002) dalam artikel Teguh Wijaya menengarai bahwa soft skill memiliki karakteristik sebagai berikut:
·           Bersifat generik, dalam arti digunakan dalam berbagai penyelesaian tugas yang berbeda.
·           Dapat ditransfer dan diterapkan dalam berbagai aktivitas pelaksanaan tugas, disebut juga sebagai keterampilan hidup (life skills).
·           Merupakan keterampilan atau atribut yang terdapat dalam aktivitas seperti pemecahan masalah, komunikasi, pemanfaatan teknologi, dan bekerja dalam kelompok.
  •      Dapat dipromosikan sebagai keterampilan yang memberi kontribusi dalam ‘pembelajaran seumur hidup. (life long learning’).
  •       Dapat dimiliki dan digunakan oleh pengusaha dan organisasi pemerintah.
  •     Dapat ditransfer dalam berbagai konteks yang berbeda oleh orang-orang yang memiliki latar belakang disiplin ilmu, profesi dan jabatan yang berbeda-beda.
Di dalam persaingan seperti sekarang, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki profesionalisme dan manajerial skill yang berbasis kemampuan sudah merupakan tuntutan. Terlebih di dunia kerja sekarang banyak dipengaruhi perubahan pasar, ekonomi dan teknologi. Tenaga kerja yang memiliki kecerdasan emosional (Emotional Quatient) sangat mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut disamping kecerdasan intelektual. Berdasar hasil survey Nasional Assosiation of Colleges and Employers USA (2002) terhadap 457 pimpinan perusahaan menyatakan bahwa Indeks Kumulatif Prestasi (IPK) bukanlah hal yang dianggap penting dalam dunia kerja. Yang jauh lebih penting adalah sotf skill antara lain kemampuan komunikasi, kejujuran, kerjasama, motivasi, kemampuan beradaptasi dan kemampuan inter personal dengan orientasi nilai pada kinerja yang efektif.
Kemampuan soft skill diatas, sebetulnya masuk dalam kecerdasan emosional yang menurut definisi adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, kemampuan memotivasi diri, Kemampuan mengendalikan diri/ mengelola emosi pada diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain (Daniel Goleman). Ada lima kecedasan emosial yang dibutuhkan didunia kerja sekarang ini, yaitu :
  1. Kesadaran emosional yang meliputi kedewasaan emosi dalam  pengambilan keputusan yang win-win solution.
  2. Pengelolaan Emosional (pengedalian diri) yang meliputi kemampuan kepekaan, sabar dan  tabah dalam menjalankan tugas.
  3. Motiovasi Diri, yang meliputi  kemampuan berpikir positif, ulet dan pantang menyerah
  4. Empati pada sesama yang meliputi kemampuan memahami, merasakan, peduli, hangat, akrab dan kekeluargaan
  5. Ketrampilan sosial , yang meliputi kemampuan bermusyawarah, bekerjasama, kepentingan umum/tim.
Di sisi lain secara teori, di dalam dunia kerja, ada 3 (tiga) unsur utama yang harus dipenuhi agar seseorang dikatakan memiliki kompetensi  yang meliputi kompetensi knowledge atau cognitive domain, skill atau psychomotor domain, serta attitude atau affective domain (Jayagopan Ramasamy, Malaysia 2006). Dalam teori tersebut dikatakan bahwa kompetensi tersebut harus bisa diukur (measurable), dinilai, ditunjukkan (demaonstrable) dan diamati (observable) melalui perilaku pada saat melaksanakan tugas. Sasaran akhir dari kompetensi adalah perilaku yang diharapkan (desired behaviour) dan perlu ditunjukkan dalam melaksanakan tugas. kompetensi yang berkaitan langsung dengan bidang kerja.
Selain itu menurut Spencer & specer ada 2 (dua) kompetensi yang berkaitan dengan bidang kerja, yakni Generic competencies, merujuk pada kompetensi yang perlu ada pada semua pegawai mengarah ke softskills, sikap mental dalam bekerja dan Functional competencies, merujuk pada kompetensi khusus yang diperlukan bagi suatu fungsi atau pekerjaan tertentu mengarah ke hardskills dan kemampuan teknis. Sedangkan di lapangan, kompetensi tersebut terbagi atas kebutuhan kemampuan Knowledge: diukur melalui ujian penilaian yang dilaksanakan oleh pihak berwenang, Skill : diukur dengan mengikutsertakan  ke dalam pelatihan-pelatihan tertentu dan Attitude: diukur secara lebih subjektif melalui penilaian terhadap perilaku yang ditunjukkan dalam melaksanakan tugas. Knowledge (melalui pendidikan), Skill (melalui pelatihan) dan Attitude yg harus dimiliki oleh tenaga kerja disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha/dunia kerja dengan menggunakan konsep Link and Match.
Sedangkan ketrampilan soft skill tenaga kerja, dalam perkembangannya banyak disumbang oleh karakter pribadi yang berasal dari didikan lingkungan keluarga (pola asuh), tradisi dan pengaruh lingkungan sekolah (sosial). Di beberapa perusahaan, ketrampilan soft skill yang dibutuhkan meliputi leadership, kreativitas, komunikasi, kejujuran dan fleksibel. Memang dalam prakteknya ketrampilan soft skill dapat dilatih dan disiapkan, namun menurut pengalaman dari PT Charoen Pokphand Indonesia  misalnya, perubahan-perubahan dalam organisasi termasuk budaya organisasi juga dapat menyumbang terhadap peningkatan soft skill tenaga kerja. Pembinaan soft skill yang baik, menurut pengalaman PT. Charoen dengan komunikasi asertif, yaitu komunikasi yang berdasar keterbukaan, jujur, tegas, langsung dan dengan cara yang sopan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh negara-negara Inggris, Amerika dan Kanada, ada 23 atribut soft skills yang dominan di lapangan kerja. Ke 23 atribut tersebut diurut berdasarkan prioritas kepentingan di dunia kerja, yaitu : (1) inisiatif, (2) etika/integritas, (3) berfikir kritis, (4). kemauan belajar, (5) komitmen, (6) motivasi, (7)bersemangat, (8) dapat diandalkan, (9) komunikasi lisan, (10) kreatif, (11) kemampuan analitis, (12) dapat mengatasi stres, (13) manajemen diri, (14) menyelesaikan persoalan, (15) dapat meringkas, (16) berkoperasi, (17) fleksibel, (18) kerja dalam tim, (19) mandiri, (20) mendengarkan, (21)tangguh,  (22)berargumentasi logis, (23) manajemen waktu.
Berikut ini adalah 31 soft skillmenurut Badan Kepegawaian Negara
No : 46 A Tahun 2003 yakni : (1)
berfikir analitis, (2) berfikir konseptual, (3) Inisiatif, (4) memiliki keahlian teknikal, (5) komitmen terhadap organisasi, (6) kreatif dan inovatif, (7) mencari informasi, (8) mengambil resiko, (9) proaktif, (10) percaya diri, (11) pengambil keputusan, (12) pengambilan keputusan strategis, (13) perbaikan terhadap keteraturan, (14) pengaturan kerja, (15) semangat untuk berprestasi, (16) perbaikan terus menerus, (17) pembelajar yg berkelanjutan, (18) berorientasi pada pelayanan, (19) berorientasi pada kualitas, (20) empati, (21) komunikasi, (22) mengarahkan dan memberikan perintah, (23) manajemen konflik, (24) membangun hubungan kerja, (25) membangun hubungan kerja strategik, (26) membimbing, (27) memimpin kelompok, mengembangkan orang lain, (28) pendelegasian wewenang, (29) tanggap akan pengaruh budaya, (30) kesadaran berorganisasi, (31) memimpin rapat.
Sesuai klasfikasi soft skill itu sendiri yakni ada aspek intra personal skill dan interpersonal skill, berikut ini uraian dari masing-masing aspek tersebut.

Aspek Intra Personal Skill
1. Berfikir analitis
            Mampu memahami situasi atau masalah kerja dengan menguraikannya menjadi urutan tugas, mampu mengidentifikasi indikator-indikator yang menyebabkan terjadi situasi atau masalah tersebut, dan dapat menguraikan masalah-masalah tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih rinci agar mudah di pahami, menemukan hubungan sebab akibat dari suatu masalah, dan mengkaji konsekuensi dari setiap tindakan.
2.  Berfikir konseptual
Mampu untuk mengolah data yang beragam dan tidak lengkap menjadi informasi yang jelas, serta mampu mengidentifikasi pokok permasalahan dan dapat menciptakan konsep-konsep baru.
3. Berfikir konseptual
            Mampu untuk mengolah data yang beragam dan tidak lengkap menjadi informasi yang jelas, serta mampu mengidentifikasi pokok permasalahan dan dapat menciptakan konsep-konsep baru
4. Inisiatif
            Mampu melakukan tindakan dengan cepat tanpa menunggu perintah lebih dahulu untuk mencapai tujuan/sasaran unit organisasi, tindakan ini dilakukan untuk mencapai sasaran melampaui dari yang di isyaratkan
5. Memiliki keahlian teknikal
            Mampu penguasaan bidang pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan berupa teknik, manajerial maupun profesional, serta memiliki motivasi untuk menggunakan dan mengembangkan serta memberikan pengetahuan yang terkait dengan pekerjaan orang lain
6. Komitmen terhadap organisasi
            Mampu untuk menyelaraskan sikap dan prilaku dengan mengutamakan kepentingan organisasi dalam rangka mewujudkan visi dan misi organisasi
7. Kreatif dan inovatif
            Mampu mengembangkan pemikiran-pemikiran baru untuk pengembangan organisasi, dengan memacu kreativitas serta berfikir bahwa ada yang lebih baik dari yang sebelumnya
8. Mencari informasi
Mampu mengumpulkan data/informasi yang di butuhkan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pekerjaan dan pengambil keputusan
9. Mengambil resiko
Mampu dalam hal keberanian melakukan tindakan yang di dasarkan pada perhitungan manfaat maupun dampak yang di timbulkan oleh tindakan tersebut
10.Proaktif
            Mampu untuk bertindak melebihi yang di butuhkan atau yang di tuntut oleh pekerjaan dengan melakukan sesuatu tanpa menunggu perintah lebih dahulu
11. Percaya diri
Mampu pada kemampuan diri sendiri dalam melaksanakan tugas pekerjaan
12. Pengambil keputusan
Mampu melakukan identifikasi terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pekerjaan dan menentukan tindakan yang tepat dalam rangka pencapaian tujuan
13. Pengambilan keputusan strategis
Mampu mengikuti perkembangan lingkungan, mengidentifikasi masalah-masalah utama yang di hadapi organisasi dan menentukan tindakan-tindakan strategis untuk mewujudkan visi dan misi organisasi
14. Perbaikan terhadap keteraturan
            Mampu untuk mengatasi ketidakpastian khususnya terkait dengan penugsan, kualitas dan ketepatan dan dan informasi di tempat kerja
15. Pengaturan kerja
Mampu melaksanakan pekerjaan yang efesien dengan efektivitas waktu dan sumber daya seseorang
16. Semangat untuk berprestasi
            Mampu melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik untuk meningkatkan kinerja secara efektif dan efesien
17. Perbaikan terus menerus
            Mampu melakukan tindakan perbaikan secara terus menerus dengan menggunakan cara-cara yang tepat agar pekerjaan dapat terlaksana dengan efesien dan efektif
18. Pembelajar yg berkelanjutan
            Mampu mencari dan menerapkan pengetahuan baru untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas

Aspek Inter Personal Skill
1. Berorientasi pada pelayanan
            Mampu memenuhi kebutuhan orang lain, menindaklanjuti kebutuhan orang lain, memberikan pelayanan dengan cepat dan tepat, mencari informasi mengenai kebutuhan yang sifatnya mendasar dan spesifik untuk menyesuaikan kebijakan pelayanan yang ada serta memilki program pelayanan jangka panjang
2. Berorientasi pada kualitas
            Mampu melaksanakan tugas dengan akurat dan penuh ketelitian sesuai dengan prosedur yang berlaku
3. Empati
            Mampu untuk mendengarkan dan memahami fikiran, perasaan, atau masalah orang lain yang tidak terungkapkan atau tidak sepenuhnya di sampaikan
4. Komunikasi
            Mampu menyampaikan informasi atau pendapat dengan jelas kepada pihak lain, dan membantu mereka memahami informasi atau pendapat yang di sampaikan
5. Mengarahkan dan memberikan perintah
            Mampu memberi petunjuk secara rinci dan jelas tentang tugas yang di harapkan, kemampuan memberikan ketegasan menolak permintaan yang tidak masuk akal, dapat meminta kepatuhan atas perintah dengan pengawasan yang ketat
6. Manajemen konflik
            Mampu mengatasi konflik yang terjadi pada orang lain dengan menyesuaikan nilai-nilai yang ada pada orang-orang tersebut untuk mengatasi konflik yang terjadi
7. Membangun hubungan kerja strategik
            Mampu mengembangkan dan melaksanakan hubungan kerja sama untuk mencapai tujuan organisasi
8. Membangun hubungan kerja
            Mampu menjalin hubungan dengan pihak-pihak lain yang berkaitan dengan pekerjaam, memprakasi pembicaraan-pembicaraan ringan yang berhubungan dengan hal yang umum seperti keluarga, olah raga, musik, berita koran dan sbg nya serta mampu membangun kesepakatan dengan pihak-pihak yang terkait mengenai pekerjaan yang akan di laksanakan
9. Membimbing
Mampu memberikan bimbingan dan umpan balik secara teratur terhadap bawahan agar bekerja secara terarah sesuai dengan rencana dan mampu menjelaskan tugas secara rinci agar bawahan dapat melakukan tugasnya dengan baik dan mampu mendorong bawahan agar bekerja optimal, patuh terhadap perintah
10. Memimpin kelompok
            Mampu untuk berperan sebagai pemimpin kelompok kerja untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
11. Mengembangkan orang lain
            Mampu melakukan upaya mendorong pengembangan orang lain agar berkerja lebih optimal
12. Pendelegasian wewenang
Mampu melimpahkan kewenangan pengambilan keputusan kepada bawahan secara tepat agar pelaksanaan pekerjaan lebih efektif dan efesien
13. Tanggap akan pengaruh budaya
            Mampu menghargai keragraman budaya dan perbedaannya yang menjadi latar belakang individu dengan tidak mempertentangkan budaya-budaya yang ada  dan bahkan dapat menjadi potensi untuk pencapaian tujuan organiasi
14. Kesadaran berorganisasi
            Mampu mengenali dan dapat memanfaatkan struktur formal atau hirarkhi suatu organisasi, rantai perintah kekuasaan setiap jabatan, peraturan serta standar operasi prosedur
15. Memimpin rapat.
            Mampu memimpin rapat atau pertemuan dengan menggunakan metode hubungan antar manusia untuk mengembangkan ide0ide dari peserta rapat guna pencapaian tujuan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *