Teknik Reframing untuk Mengubah Emosi Negatif menjadi Perilaku Positif

  • Bagikan

Reframing merupakan salah satu dari tools NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang sangat jitu untuk mengubah perilaku atau emosi negatif dengan mengubah sudut pandang. Sesuai dengan namanya, reframing merupakan teknik membingkai ulang suatu peristiwa dengan sudut pandang yang lebih positif. Teknik ini bermain di area persepsi seseorang untuk mengubah emosi dan perilaku negatif.

Berapa kali kita terbawa pada persepsi negatif yang akhirnya membawa emosi dan perilaku yang negatif pula bagi diri kita? Persepsi hanyalah pemaknaan dan penilaian dari diri kita sendiri atas sebuah rangsangan atau kejadian yang kita alami (saya sebut sebagai stimulus). Stimulus tersebut bisa saja netral, tetapi diri kita memersepsikannya sebagai sebuah hal yang negatif sehingga kita memunculkan perasaan benci, kesal, marah, tidak menerima, dan perasaan-perasaan negatif lainnya dari dalam diri kita. Dari perasaan negatif tersebut, belanjutlah ke perilaku-perilaku negatif juga seperti marah-marah, menangis, dan sebagainya. Untuk menambah penjelasan mengenai persepsi, saya memiliki sebuah kisah yang menarik:

Suatu hari hiduplah seorang petani di sebuah desa yang miskin. Ia hidup dari bertani dengan bantuan seekor kuda miliknya. Kuda tersebutlah yang membantu ia dalam bekerja dan menghidup diri. Suatu hari, kuda tersebut melarikan diri. Orang-orang di desa tersebut mengatakan bahwa si petani tertimpa sial, tapi sang petani hanya berkata, “Mungkin.”

Beberapa hari kemudian, kuda si petani tua tersebut kembali lagi, bersama dengan dua ekor kuda liar lainnya. Orang-orang di desa tersebut mengatakan bahwa si petani tertimpa rezeki nomplok, sang petani hanya berkata, “Mungkin.”

Keesokan harinya, anak laki-laki tunggal dari si petani tua mencoba untuk mengendarai kuda liar tersebut. Karena kaget dan tidak terbiasa dengan sentuhan manusia, kuda tersebut menendang sang anak laki-laki. Kaki sang anak laki-laki tersebut patah. Orang-orang di desa tersebut kembali bersimpati atas kesialan si petani, tetapi ia hanya berkata, “Mungkin.”

Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pegawai pemerintahan ke desa tersebut membawa kabar bahwa semua anak laki-laki di desa tersebut harus bergabung ke dalam militer dan ikut berperang. Semua orang tua harus menanggung rasa sedih yang mendalam karena harus berpisah dengan anak laki-lakinya yang belum tentu akan kembali lagi. Tetapi anak laki-laki dari si petani tua ditolak oleh militer karena mengalami patah kaki. Semua orang di desa mengatakan bahwa si petani sungguh-sungguh beruntung karena tidak perlu berpisah dengan anak laki-lakinya. Petani tersebut hanya kembali berkata, “Mungkin.”

Jadi, sebenarnya si petani tersebut sial atau beruntung? Kehilangan kuda, sial atau beruntung? Mendapatkan dua ekor kuda liar secara gratis, sial atau beruntung? Anak laki-laki semata wayang mengalami patah kaki, sial atau beruntung? Jika hal tersebut (amit-amit) terjadi pada kita, bagaimana kita akan meresponnya?

Semua bergantung pada konteks, bukan? Sang petani tua kehilangan seekor kuda yang sangat berharga baginya, bagi orang-orang mungkin kejadian tersebut adalah kesialan… tapi apakah akan tetap menjadi sial jika ternyata kuda tersebut kembali dengan dua kuda tambahan? Bagi orang-orang mendapatkan dua ekor kuda secara gratis adalah keberuntungan, tapi apakah akan tetap menjadi keberuntungan jika ternyata kuda tersebut menendang anak laki-laki si petani tua hingga kakinya patah? Dan, bagi orang-orang, mendapati anak laki-laki dengan kondisi cacat fisik merupakan sebuah kesialan, tetapi akankah tetap dikatakan sial jika ternyata pada saat itu semua anak laki-laki yang sehat dan normal harus ikut dalam peperangan?

”Saya tidak suka kalau pacar saya tidak memberi kabar kepada saya!” Bukankah itu artinya, pacar anda sedang menyelesaikan urusan-urusannya agar nanti ia bisa bertemu dengan anda tanpa harus terganggu urusan lain?

”Saya benar-benar tidak suka dengan adik saya. Ia terlalu banyak ikut campur dengan urusan saya!” Bukankah itu berarti adik anda perhatian dan peduli terhadap anda?

”Saya pusing sekali dengan atasan saya, ia selalu menelepon saya di malam hari untuk urusan pekerjaan, padahal saya ingin istirahat!” Bukankah itu artinya atasan anda memercayai diri anda, dan anda berpeluang untuk menjadi karyawan berprestasi?

“Saya kesal sekali dengan bawahan saya, kalau kerja lama sekali selesainya!” Itu berarti dia tekun dan cermat dalam mengerjakan tugas itu kan?

Agar anda lebih mantap lagi dalam melakukan reframing, silakan buat reframing dari kondisi-kondisi berikut ini, ibaratkan bahwa ”saya” dalam contoh-contoh di bawah ini adalah anda, dan anda akan melakukan reframing kepada diri anda sendiri untuk mengubah emosi negatif tersebut menjadi emosi positif:

  1. Saya selalu kesel deh kalau lihat si Banu malas-malasan di depan meja kerjanya.
  2. Saya gak suka dengan anak saya yang terlalu sering pergi bersama teman-temannya!
  3. Saya selalu marah jika pesawat delay lagi.
  4. Sikap Andi yang terlalu cuek benar-benar membuat saya marah!

Ingatlah bahwa pada prinsipnya, semua memiliki maksud yang positif. Sehingga reframing yang kita lakukan tentu dari bingkai yang positif. Sampai di sini, kita sudah memelajari reframing untuk mengubah emosi negatif menjadi emosi positif. Agar lebih mantap lagi, anda bisa mempraktekannya kepada diri anda setiap hari ketika anda menemui kesulitan-kesulitan. Anda juga bisa menerapkannya kepada teman anda yang sedang mengeluhkan masalahnya. Dengan membantu sesama, pahalakita  anda bertambah banyak, bukan? 😉

Lalu bagaimana menerapkan reframing untuk mengubah perilaku? Sebagai sebuah kesatuan, tubuh kita sebenarnya terdiri dari bagian-bagian yang memiliki perannya masing-masing. Bagian-bagian ini memiliki tujuan yang positif, tetapi dalam pelaksanaannya tidak selalu positif sehingga menimbulkan perilaku yang negatif. Jika perilaku yang muncul positif, tentu kita tidak akan merasa dirugikan; tetapi bagaimana jika perilakunya negatif?

Sebagai sebuah kesatuan, tubuh kita sebenarnya terdiri dari bagian-bagian yang memiliki perannya masing-masing. Bagian-bagian ini memiliki tujuan yang positif, tetapi dalam pelaksanaannya tidak selalu positif sehingga menimbulkan perilaku atau emosi yang negatif.

Masing-masing bagian dalam tubuh memiliki perannya masing-masing, dengan tujuan yang positif bagi diri kita. Hanya saja, pelaksanaan dari tujuan tersebut seringkali dengan cara yang negatif sehingga menimbulkan perilaku yang negatif juga. Sebagai contoh, mari kita lihat seorang pemabuk. Ia gemar sekali meminum minuman keras secara berlebihan hingga mabuk. Apakah perilaku tersebut positif? Tentu saja tidak. Meminum minuman keras secara berlebihan dapat merusak kesadaran dan juga fisik kita. Tetapi mari kita lihat tujuan di balik perilaku minum berlebihan tersebut; mungkinkah ia sedang gelisah karena keluarganya yang sedang tidak harmonis? Ia sedang tertekan karena masalah ekonomi? Untuk menekan perasaan-perasaan negatif tersebut, ia meminum minuman keras untuk mengalihkan fokus perasaan-perasaan negatif tersebut. Apa tujuannya baik? Ya, untuk menekan rasa gelisah dan tertekan. Tetapi apa caranya baik? Tidak, karena meminum minuman keras dapat merusak kesadaran dan fisik.

Dengan teknik reframing, perilaku tersebut dapat kita ubah. Secara prinsip, kita harus mengetahui maksud positif dari perilaku tersebut, kemudian kita cari perilaku-perilaku alternatif yang memiliki tujuan positif yang sama dengan perilaku yang ingin kita ubah. Bagaimana jika tidak ada maksud atau tujuan positif yang ditemukan? Pasti ada. Tanyakan kembali hingga anda menemukan makna atau tujuan positif di balik perilaku yang ingin diubah tersebut.

Dikutip dari berbagai sumber

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *