[Opini] Fenomena Korupsi, Jebakan Sistem atau Hancurnya Etika?

  • Bagikan


  (Pixabay.com/Sajinka2)

Fenomena korupsi sudah lama menyita perhatian publik,
upaya-upaya pencegahan untuk menuntaskan problem ini selalu digaungkan oleh
para pihak-pihak terkait, namun sampai pada hari ini, korupsi seakan tak bisa
dibendung keberadaannya. Satu persatu pelaku korupsi diungkap, mulai dari
kalangan bawah hingga pada kalangan elit, dari tingkat desa hingga kabupaten,
dari provinsi hingga kementerian, semuanya tak luput dari tindak pidana korupsi.
Secara problem, ini membutuhkan power yang begitu kuat untuk bisa melawan dan
menuntasakan tindak pidana tersebut.

Kerakusan para pelaku korupsi dalam membentangkan sayapnya,
menyita harta rakyat tanpa sedikitpun merasa bersalah, tanpa sedikitpun merasa
malu bahwa itu merupakan perbuatan tindak pidana yang meruntuhkan moral
manusia. Tak lazimnya karena kebanyakan yang melakukan korupsi adalah para
pejabat, yang secara etik seharusnya memberikan contoh, dan menanamkan nilai
kemanuiaan berupa kejujuran, tanggung jawab, integritas, dan nilai-nilai
lainnya yang berkenaan dengan perihal kebaikan.

Sebagai contoh, pada akhir tahun 2020, kasus korupsi bansos
menyita perhatian publik. Bagaimana tidak? Tindak pidana tersebut dilakukan
oleh pejabat Kemetrian Sosial, dimana pada saat itu, negara begitu genting
dalam aspek ekonomi. Anggaran yang diperuntukkan untuk membantu perekonomian
masyarakat, malah dijadikan sebagai ladang memperkaya diri sendiri. Sebuah
ironi dan renungan untuk para pejabat lainnya.

Bisa dikatakan hampir di semua lini, yang salah satu
contohnya adalah  pemerintahan.
Potensi-potensi, serta tindak pidana korupsi yang telah lalu bahkan sampai pada
jajaran kementerian
sudah cukup untuk membukukan rapor merah pada tindak pidana korupsi.

Tentu kita bertanya-tanya, apa yang melatarbelakangi
tindakan-tidakan kotor tersebut? Apakah mereka begitu kelaparan, dan tak cukup
finansial untuk menjalani kehidupannya? Apakah banyak para pejabat yang
terlibat  kasus korupsi karena terperangkap dalam suatu sistem yang buruk?
Atau memang nilai kemanusiaan yang sudah begitu dalam tergerus oleh
godaan-godaan kekayaan? Semuanya bisa menjadi mungkin, antara keadaan sistem
yang menjebak, atau nilai yang sudah hilang keberadaaannya.

Sebagaimana sebelumnya, bahwa problem moral yang menyebabkan
terjadinya tindak pidana korupsi, orang bermoral akan sadar bahwa hanya hak
yang bisa diterima, di luar dari itu adalah kesalahan. Di samping itu, berada
dalam lingkungan atau sistem yang buruk, bisa menjadi penyebab terjadinya
tindak pidana korupsi, baik itu karena tekanan sistem, kesalahan memahami
sistem, hingga pada tindak saling menjatuhkan antar sesama. Sebuah kemungkinan
yang patut kita cermati.

 



Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *