//

Perbedaan Orang Desa dan Orang Perumahan

  • Bagikan



 

Memilih tinggal
di desa atau perumahan tergantung kondisi lingkungan kecamatan yang aka
ditinggali. Berdasarkan survey tidak sengaja, perumahan bisa muncul jika ada
pemilik lahan melepaskan sawah atau perkebunannya kemudian dibeli oleh
developer karena desakan ekonomi zaman. Bisa terjadi karena hasil yang didapat
karena hasil bertani tidak sesuai biaya perawatan, hal itu menyebabkan petani
memilih melepaskan lahan walau dengan harga kurang menguntungkan. 

Apakah salah
jika pemilik sawah menjual tanahnya? Jawaban dilema memang, kondisi zaman
semakin mahal biaya perawatan tidak sebanding dengan hasil. Pelan tapi pasti
sawah-sawah beralih fungsi menjadi perumahan.

Sebut saja
Desaku. Namanya desa Kemiri, masih melekat sebutan Desa, tapi jangan tanya
berapa sawah masih tersisa? Bisa dihitung dengan jari.

Aku masih ingat
waktu kecil, hamparan sawah mudah ditemui di desaku, apalagi pas tanam garbis di
bulan puasa cukup dengan uang 10 ribu bisa dapat garbis satu karung. Atau jika
petani sudah meninggalkan tanduran garbis karena dirasa sudah tidak produktif,
aku dan teman-teman leluasa mencari garbis sisa yang belum dipetik.

Sungguh indah
memang hidup berdampingan dengan alam walau hanya sebentar, setidaknya dalama
hidupku pernah merasakan nikmatnya udara dingin dari alam bukan dari AC.

Yang pertama
lahir adalah pedesaan atau Desa. Dengan sejumlah kultur, budaya terbentuk
bersama masyarakat dari sikap gotong royong, toleransinya yang kuat. Kemudian
perumahan lahir, disebut masyarakat perkotaan identik dengan gaya hidup mewah,
open minded, minim komunikasi antar tetangga.

Secara tidak
sadar ada semacam pandangan berbeda baik dari sisi orang desa atau orang
perumahan. Sekalipun dulunya pernah tinggal di desa  kemudian pindah ke perumahan atau sebaliknya,
ada saja perumahan gaya yang tampak saat kita berbicara dengan bahasannya.

Beberapa kategori
ini bisa menunjukkan perbedaan orang desa dan orang perumahan.

Disebut
kampungan.
Bukan rahasia lagi, orang desa selalu dianggap kampungan,
keterbelakangan, ketinggalan zaman, susah di ajak berkembang. Berbeda sebutan
orang perumahan, gaya bicaranya bahasa Indonesia saklek, banyak sekali orang
pintar kanan-kirinya.

Aku melihatnya
tidak bisa naif, perbedaan itu jelas sekali adanya. Jika anak desa atau kampung
gaya biaranya ngoko, tapi mereka punya sisi kesopanan yang tidak dimiliki anak perumahan.
Misalnya ketika ngomong dengan orang lebih tua dia tidak akan pakai “koen” dia
tahu harus menggunkann kata “sampean” atau “njenengan” menggunakan jawa alus.
Dimana bahasa itu digunakan untuk mengormati orang lebih tua.

Berbeda dengan
orang perumahan identik bahasa indonesia full sehari-hari, sehingga perbedaan
berbicara antara kecil, sampai dewasa menggunakan “kamu” batinku berbicara:
ngomong dengan orang lebih tua pakai “kamu”,
itu salah satu kelemahannya.

Lebih menyedihkan lagi jika anak memanggil ibunya tambahan “kamu” nyess  gitu rasanya hati ini, ibu sendiri dibilang “kamu”.

Anak desa punya
malu tidak bisa membaca alquran.
Fenomena ini kutemui di sela-sela mereka belajar
ngaji di TPQ. Ada santri di kelasku sudah kelas 6 SD dia menimpali temannya
yang izin ngaji pulang cepat karena harus les bahasa inggris.

“Aku loh gak
seneng pelajaran bahasa inggris, opo maneh lek digandeng-gande is, are ngunu
iku” (aku loh nggak suka pelajaran bahasa Inggris, apalagi kalau di sambung is,
are
itu)

Aku menjawab
“gak popo masio gak isok, engkok nang kuburan malaikat gaka takon gawe bahasa
inggris what’s your name”. (tidak apa nggak bisa, nanti di kuburan
malaikat nggak akan tanya pakai bahasa inggris what’s your name)

“Iyo Bu yo, seng
penting isok moco al quran”. (iya Bu ya, yang penting bisa baca alquran)

Aku tertawa
mendengan jawaban mereka, kalau dipikir betul juga. Kita diminta mempelajari
semua ilmu dunia sampai lupa mempelajari ilmu bekal akhirat nanti.

Bisa kalian
bandingkan dengan anak perumahan, mempelajari al quran itu nomor ke sekian, les
matematika, les bahasa inggris nomor satu. Pergi berangkat ngaji ke TPQ
dibilang kampungan, banyak mainnya kalau ngaji di TPQ. Memilih manggil guru
ngaji ke rumah, apa yang terjadi? Seperti guru ngaji nggak ada harga dirinya
karena merasa itu rumah dia sendiri, bebas dia bertindak seenaknya. Mohon maaf
kesannya bukan guru ngaji, kalau itu anak kecil kita harus ikutan mengatur mood
dia, kalau dewasa karena paksaaan orang tuanya harus belajar ngaji, ketika
ngaji tidak ada rasa greget untuk semangat mengaji.

Walaupun tidak
semuanya tapi kebanyakan rumah yang ku jumpai kurang lebih seperti itu. Jika
orangtuanya pengertian sangat kooperatif tentunya, lain cerita jika orangtuanya
acuh yang ada kita malah kena tegur kalau memberika penekanan agak kasar.
Padahal tujuannya adalah kebaikan.

Orang perumahan
terkenal dengan gaya mewahnya. Kalian boleh setuju atau tidak statement ini.
memang bangunan perumahan bagus, keren, tiap rumah setidaknya ada mobil. Hal
itu yang mendorong orang tinggal di perumahan berlomba-lomba menjadi terlihat
kaya.

Disebut orang
sosialita. Kalau orang desa disebut rumpi atau nonggo. Orang desa terkenal suka
nonggo, gosip membicarakan orang-orang yang lagi hist di minggu-minggu ini.

kalau kategori ini nggak di desa atau perumahan kurang lebih sama-sama ada, hanya di perumahan agak jarang karena udah sibuk di dalam rumah masing-masing. Maklum semua sudah tersedia di dalam rumahm, tanpa harus keluar rumah, kalau bosen tinggal keluar pergi ke Mall.

 

Rumah harus di
pagar.
 Identik tiap rumah harus dipagar
bahkan seakan tertutup dari dunia luar. Jadi ingat filosofi orang dulu, ada
yang pernah mengatakan akan datang zaman dimana kalian tidak akan saling
menyapa kanan-kiri.
Pelan-pelan kalimat itu terkabul, baik perumahan atau
kampung semua berlomba-lomba membuat pagar tinggi agar timbul rasa nyaman untuk
harta bendanya.

Memang zaman
sudah berubah, tujuan bangun pagar salah satunya agar rumah jauh dari hal
kehilangan harta benda. Berpikir positif meskipun pagar rumah tinggi tidak akan
menganggu silaturahmi antar tetangga untuk nggosip eh ngbrol maksudnya.

Namun ada
perumahan yang menerapkan model tidak memakai gerbang. Salah satunya di
Kabupaten Sidoarjo, sudah bukan rahasia kan tiap rumah motor lebih dari dua,
kadang mobil lebih dari dua, dan itu tanpa pagar. Memang aman? Insya allah
aman, model perumahan kan nggak jauh-jauh dibuat cluster satu pintu kayaknya
untuk memberikan rasa aman.

Ditambah
perumahan itu mengharuskan anak laki-lakinya harus pergi ke masjid untuk sholat
fardlu berjamaah. Wagelass kagum menyaksikan, first time bagiku. Pengalaman ini
didapat karena menjadi guru privat ngaji di perumahan tersebut.

Boleh di acungi
jempol juga pemilik developer properti ini memiliki aturan cukup ekslusif.
Mungkin maksud mereka menyediakan hunian kota beraroma desa jadi rasa aman,
persaudaran harus tercium juga, bedanya kalau disini harus bayar satpam, bayar
lampu jalan, bayar kebersihan taman depan perumahan.

Anak kampung
tidak bisa gabung dengan anak perumahan. Saya sendiri sebagai anak kampung
merasakan dan menyaksikan betul fenomena ini, entah kenapa selalu saja ada
perbedaan diantara mereka. Padahal mereka pun bisa sekolah di tempat yang sama,
beli jajan di tempat sama, tapi tetap saja ada kesan perbedaan tidak setara.

Kebetulan TPQ
tempat aku mengajar berdampingan dengan perumahan. Alhamdulillah ada beberapa
anak perumahan ngaji di TPQ Nurul Huda. Karena anak kampung terkenal memiliki
label kasar, dipasangkan dengan anak perumahan yang biasa pribadinya adalah
halus, nah jadinya ada rasa tidak senang.

Bagaimana aku
mengatasinya? Bagaimanapun baik mereka anak perumahan atau anak kampung tujuan mereka
satu yaitu mengaji, jika ada tingkah laku berlebihan sebagai pembimbing cepat
mengingatkan atau menegur.

Kalau anak
kampung ditegur keras tidak masalah, susahnya kalau anak perumahan ditegus
keras sedikit besoknya udah nggak datang lagi. Tapi nggak semuanya kayak gitu
hehe.

Ada yang bilang
anak perumahan lebih berani. Statement ini kudapat dari orangtua yang hidup di
lingkungan perumahan. Menurutnya, anak perumahan lebih berani meminta
pertanggungjawaban jika menurut dirinya tidak melakukan kesalahan dibanding
anak kampung jika sedang ditindas ia akan berkata  “yasudahlah”.

Kesimpulannya
adalah memilih tempat tinggal baik itu di desa atau kota tetap memiliki
perbedaan mencolok, dengan sejumlah gaya kehiudupan telanjur di bingkai oleh
kebiasaan yang sebenarnya kita tidak menginginkan mungkin.

Hanya saja jika
sudah memutuskan akan tinggal dimana, tentu sudah harus menentukan resikonya
akan seperti apa. ada orang yang memilih tinggal di kampung agar kela jika
meninggal banyak orang yang membantu, mengantarkan ke peristirahatan terakhir.
Ada yang memiih tinggal di perumahan merasa lebih aman karena ada security
dibanding kampung yang kadang mudah kemalingan. 

sebagai anak desa aku bangga di sebut anak kampung, walau kadang disebut anak kurang modern setidaknya aku tahu cara beretika dengan orangtua daripada pintar berbicara untuk berkelit.

Jadi ingat di surabaya ada Kampung Tangguh saat boomingnya Coronavirus untuk pencegahan penyebaran virus, lah itu pakai nama Kampung, ada nggak ya perumahan tangguh? hehe



Source link

  • Bagikan