Sepak Terjang sang Pelopor: Riwayat Pendidikan hingga Kiprah Politik Ki Hajar Dewantara

  • Bagikan


Dok.Pribadi

Raden Mas Suwardi Suryanigrat, atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 02 Mei 1889. Ia dilahirkan dari seorang ayah yang bernama Suryaningrat, dan ibunya bernama Raden Ayu Sandiyah. Ki Hajar Dewantara terlahir dari keluarga Keraton di Yogyakarta dan merupakan golongan keluarga ningrat. Ki Hajar Dewantara memulai pendidikan dasarnya di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah yang pada awal bedirinya hanya dikhususkan  untuk orang Belanda, tetapi itu hanya sementara, pada tahun 1903 sekolah ini juga bisa diakses oleh orang pribumi, sehingga Ki Hajar Dewantara dapat  merasakan bangku pendidikan di sekolah tersebut.

Setelah menamatkan pendidikan dasar, Ki Hajar Dewantara melanjutkan pendidikannya di  Kweekschool, atau yang dikenal dengan Sekolah Guru Belanda  selama satu tahun. Tak hanya sampai disitu, Ki Hajar Dewantara kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dokter Bumiputera atau juga dikenal dengan nama STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Ia menjalani pendidikan selama lima tahun di STOVIA, kendati ia tidak menyelesaikan  sampai akhir dikarenakan mengalami sakit selama beberapa bulan sehingga beasiswanya juga turut dicabut. Pencabutan beasiswanya dianggap sebagai hal yang bersifat politis karena Ki Hajar Dewantara  mendeklamasi sebuah sajak yang dianggap  membangkitkan semangat pemberontakan terhadap pemerintah Belanda.
Selepas tak lagi bersekolah di STOVIA, ia berkiprah sebagai seorang wartawan, dan aktif dalam gerakan organisasi Budi Utomo, yaitu organisasi yang berfokus untuk membangkitkan semangat persatuan,  dan kebangsaan warga pribumi. Dari hal tersebut, tentunya kita sudah mulai mengenal Ki Hajar Dewantara sebagai seorang tokoh nasionalis yang berjuang untuk kemerdekaan. 

Pada tanggal 25 Desember 1912, ia mendirikan sebuah partai politik bersama dengan dua orang rekannya, yaitu Dr. Danurdirdja Setyabudhi (Douwes Dekker) dan dr. Cipto Mangunkusomo yang kemudia nama partainya dinamakan Indische Partij.Partai tersebut adalah buah pikiran dari Douwes Dekker. Tak berjalan mulus, partai tersebut mendapat penolakan dari pihak Belanda karena dianggap dapat menjadi pembangkit persatuan rakyat dalam menentang kolonial Belanda.

Ketiga Tokoh yang dikenal dengan sebutan 3 serangkai: Ki hajar Dewantara (Kiri), Dr. Danurdirdja Setyabudhi (tengah), dr. Cipto Mangunkusomo(Kanan)

Setelah ditolaknya partai politik yang diusulkan, Ki Hajar Dewantara aktif  menjadi seorang penulis. Salah satu contoh tulisannya adalah “Seandainya Aku Belanda” yang pada saat itu dimuat dalam surat kabar de expres. Tulisan tersebut nampaknya mendapat perhatian dari pihak Belanda, dan lagi-lagi tulisan tersebut dianggap mengancam, karena bisa membangkitkan persatuan rakyat, hingga pada akhirnya Ki Hajar Dewantara diberikan hukuman buang ke Pulau Bangka. 

Mendapat perlakuan tersebut,  kedua rekannya yaitu Dr. Danurdirdja Setyabudhi dan dr. Cipto Mangunkusomo memberikan pembelaan melalui tulisan mereka, namun hal tersebut justru membuat keduanya mendapatkan hukuman yang sama seperti Ki Hajar Dewantara  alami, keduanya dibuang ke Kupang dan Pulau Banda, namun pada tahun 1913 mereka dipindahkan ke Belanda. Di situlah Ki Hajar Dewantara mendalami masalah-masalah pendidikan, dan menggagas pembangunan bidang pendidikan nasional.

Enam tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk mengabdikan diri sekaligus mendirikan  Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Sekolah ini didirikan untuk membangun semangat kebangasaan agar mampu berjuang dalam mendapatkan kemerdekaan. Warga pribumi diberikan akses pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan, tujuannya hanya satu, memberikan kesempatan yang sama kepada warga pribumi untuk mengeyam bangku pendidikan, dengan itu akan lebih banyak pejuang pejuang terpelajar yang akan berkontribusi besar terhadap perjuangan kemerdekaan indonesia. 

Selang beberapa tahun berdirinya, sekolah yang didirikan Ki Hajar Dewantara tersebut menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama wasita. Majalah tersebut berisi gagasan pendidikan yang coba untuk disebarluaskan ke orang-orang pribumi. Ki Hajar Dewantara memang dikenal sebagai orang yang punya kecerdasan dalam membangun konsep-konsep perjuangan, utamanya dalam bidang pendidikan. Pikiran-pikirannya mampu memberikan semangat kepada warga pribumi dalam memperjuangkan hidup dan kehidupannya di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Sekolah yang didirikannya mampu berkembang pesat dan membuka cabang di beberapa daerah lainnya. Ki Hajar Dewantara juga menggaungkan 3 semboyan yang digunakan sebagai dasar filosofis dan harapan tentang pelaksanaan pendidikan:

Ing ngarsa sung tulada ; di depan menjadi contoh

Ing madya mangun karsa; di tengah membangun semangat

Tut wuri handayani; di belakang memberi  dorongan

Ketiga semboyan tersebut diorientasikan pada peran pendidik dalam memberikan contoh, membangun semangat, dan memberi dorongan kepada peserta didik guna untuk pelaksanaan dan hasil pendidikan yang ideal. Sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan  kepada sang pelopor pendidikan, salah satu semboyan tersebut digunakan dalam logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hingga saat ini.

Atas jasa-jasa yang telah diberikan, mulai dari pemikiran tentang konsep  pendidikan, dan juga kontribusi nyata lainnya dalam mewujudkan pelaksanaan pendidikan, Ki Hajar Dewantara didaulat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang pada saat itu disebut dengan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Jabatan itu  didapatkan setelah  zaman kemerdekaan, tepatnya pada tanggal 2 September 1945-14 November 1945. Beberapa tahun kemudian, Ki Hajar Dewantara mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun 1957. 

Berselang dua tahun kemudian (26 April 1959) sang pejuang pendidikan indonesia meninggal dunia, dan tentunya menyisakan luka mendalam bagi rakyat Indonesia. Ki Hajar Dewantara adalah seseorang yang telah memberikan bakti tulusnya untuk Indonesia. Itu terbukti dari wasiat yang ia berikan kepada anaknya, Bambang Sukowati yang berbunyi:

Mbang, apa pun yang dikatakan orang tentang diriku, kau wajib menerimanya. Namun kalau suatu ketika ada orang meminta pendapatmu, apakah Ki Hajar seorang nasionalis, radikalis, sosialis, humanis, tradisionalis maupun demokrat? Maka katakanlah, aku hanya orang indonesia biasa bekerja untuk bangsa indonesia dengan cara indonesia

Demikian isi wasiatnya kepada anaknya, suatu kalimat bijak nan tulus dari seorang pelopor pendidikan untuk bangsa indonesia. 

Kembali kepada jasa-jasa yang telah ia berikan selama hidupnya dalam bidang pendidikan, Ki Hajar Dewantara ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional pada tanggal 28 November 1959 melalui Keputusan Presiden (Kepres) RI Nomor 305, sekaligus menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional sesuai dengan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara. Selain itu, rumah Ki Hajar Dewantara juga dijadikan museum yang diberi nama Museum Dewantara Kirti Griya sebagai bentuk pelestarian atas karya-karyanya dalam memperjuangkan kehidupan kebangasaan dan pendidikan Indonesia. Rumah atau museum tersebut terletak di Jalan Kusuma Negara 157 Timoho Yogyakarta.

Akhir kata, kita berikan penghormatan untuk sang pelopor!

Selamat Hari Pendidikan Nasional…

Hardiknas bukan sekedar perayaan nasional, melaikan momentum mengembalikan semangat perjuangan bapak pendidikan indonesia, Ki Hajar Dewantara. Menguatkan kembali esensi pendidikan dalam menghadirkan proses dan hasil yang senyatanya mencerdaskan serta menghasilkan manusia yang utuh.

Mari wujudkan:

Ing Ngarsa Sung Tulada

Ing Madya Mangun Karsa

Tut Wuri Handayani

#KiHajarDewantara

#Hardiknas2021

#SerentakBergerak

#WujudkanMerdekaBelajar



Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *