Sistem 1 dan Sistem 2 dalam berpikir

  • Bagikan


        Ada beberapa catatan yang sangat menarik yang saya temukan ketika membaca buku berjudul “Thinking Fast and Slow” karya Daniel Kahnemann, diantaranya yaitu mengenai bentuk persepsi dan sebuah pilihan. Para psikolog selama beberapa dekade sangat tertarik pada dua cara
berpikir yang ditimbulkan oleh gambaran wanita yang marah oleh beberapa masalah. Di sini Daniel kahneman
mengadopsi istilah yang awalnya diusulkan oleh psikolog Keith Stanovich
dan Richard West, dan akan merujuk pada dua sistem dalam pikiran, Sistem
1 dan Sistem 2.

 

1. Sistem 1 beroperasi secara otomatis dan cepat, dengan sedikit atau tanpa usaha dan tanpa kendali.

 

Berikut adalah beberapa contoh aktivitas otomatis yang dikaitkan dengan Sistem 1:

• Mendeteksi bahwa satu objek lebih jauh dari yang lain.

• Menghadap ke sumber suara yang tiba-tiba.

• Melengkapi frasa “roti dan . . .”

• Membuat “wajah jijik” ketika diperlihatkan gambar yang mengerikan.

• Mendeteksi permusuhan dengan suara.

• Jawaban untuk 2 + 2 = ?

• Membaca kata-kata di papan reklame besar.

• Mengendarai mobil di jalan yang kosong.

• Menemukan gerakan yang kuat dalam catur (jika kita seorang master catur).

• Memahami kalimat sederhana.

   

     Semua peristiwa mental di atas memiliki kesamaan dengan bagaimana kita menyimpulkan wanita yang marah—hal-hal tersebut terjadi secara
otomatis dan membutuhkan sedikit atau tanpa usaha. Kemampuan Sistem 1
mencakup keterampilan bawaan kita yang selalu berkembang/evolusi. Kita
dilahirkan siap untuk memahami dunia di sekitar kita, mengenali objek,
mengarahkan perhatian, menghindari kerugian, dan takut laba-laba.
Aktivitas mental lainnya menjadi cepat dan otomatis melalui latihan yang
berkepanjangan.

2. Sistem 2 mengalokasikan perhatian pada aktivitas mental yang menuntutnya, termasuk komputasi yang kompleks. Pengoperasian Sistem 2 sering dikaitkan dengan pengalaman subjektif dari agensi, pilihan, dan konsentrasi. 

Operasi Sistem 2 yang sangat beragam memiliki satu kesamaan: mereka
membutuhkan perhatian dan terganggu ketika perhatian dialihkan. Berikut
beberapa contohnya:

• Mempersiapkan starter dalam suatu perlombaan.
 
• Fokus pada suara orang tertentu di ruangan yang ramai dan bising.

• Mencari seorang wanita dengan rambut putih.

• Menjaga kecepatan berjalan yang lebih cepat dari yang biasa dilakukan.

• Menghitung kemunculan huruf a di halaman teks.

• Memberi tahu seseorang nomor telepon Anda.

• Parkir di tempat yang sempit (bagi kebanyakan orang kecuali petugas bengkel).

• Membandingkan dua mesin cuci untuk nilai keseluruhan.

• Mengisi formulir pajak.

• Memeriksa validitas argumen logis yang kompleks

        Dalam semua situasi ini kita harus memberikan perhatian, dan kita akan tampil
kurang baik, atau tidak sama sekali, jika kita tidak siap atau jika
perhatian kita diarahkan secara tidak tepat. Ketika kita memikirkan diri kita sendiri, kita mengidentifikasi diri
dengan Sistem 2, diri yang sadar dan bernalar yang memiliki keyakinan,
membuat pilihan, dan memutuskan apa yang harus dipikirkan dan apa yang
harus dilakukan. 

Man, Grass, Lying, Resting, Relaxing, Boy, Thinking

        Secara Alamiah otak kita akan otomatis bekerja dengan sistem 1. ini kadang kita sebut dengan istilah “berpikir di luar kepala”. Ketika ada masalah yang kita anggap kompleks, misalnya saja kita diminta untuk menghitung 237 x 23, barulah otak kita terdorong untuk berpindah ke sistem 2. 

        Masalahnya sistem 1 kita ga selalu akurat, baik secara fakta maupun nalar. semisal kita pernah nggak memiliki “feeling” untuk setuju dengan suatu tawaran atau kebijakan? tapi kalau ditanya kenapa setuju dengan kebijakan itu, ga bisa menjelaskan dengan fakta dan penalaran valid?. demikianlah otak sistem 1 tidak selalu akurat, maka dari itu perlu “alat bantu” untuk menguji hasil berpikir kita. alat bantu yang kita butuhkan diantaranya adalah Penalaran ilmiah, Rasioalitas, dan logika. Kita pakai ini untuk menguji apakah hasil berpikir kita akurat atau tidak.

        Pada dasarnya Sistem 1 yang akurat merupakan hasil pembentukan dan latihan sistem 2 secara terus-menerus. Bagitu juga sebaliknya, sistem 2 yang salah dan dilakukan terus menerus akan melekan menjadi sistem 1 yang salah. dari sanalah kita tahu bahwa yang perlu kita lakukan adalah melatih kebiasaan berpikir ilmiah, asional, dan logis ke dalam diri kita sampai menjadi sistem 1 di otak kita. bagi saya contoh yang tepat dalam proses latihan ini adalah saat belajar bermain puzzle rubik, pada awalnya mmebutuhkan fokus dan gerakan tangan yang akurat, lama kelamaan jari dan otak bisa otomatis memainaknnya “di luar kepala”.

Kamu punya pengalaman menarik mengenai hal ini?

yuk berbagi di kolom komen 🙂



Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *