//

Harga Kedelai Melonjak, Pengrajin Tempe Menjerit

  • Bagikan


 


Hari kedua di
awal tahun 2021 mencuat berita tempe langka di pasar tradisional. Mendengarkan
berita dari Radio Suara Surabaya banyak pendengar mengeluhkan tempe yang dijual
di pasar sekitaran Surabaya, Sidoarjo kosong semua. hal ini lantaran harga
kedelai yang melonjak tinggi, sehingga pengrajin barang turunan kedelai salah
satunya produsen tempe memilih tidak produksi. 

Harga kedelai
sendiri mengalami kenaikan sebesar Rp. 2000 dari yang sebelumnya Rp. 9.200 per
kilogram kedelai impor. Kok kedelainya impor? Harga kedelai lokal harganya
lebih mahal (Hudi Sulistyo, Kepala Dinas Pangan Provinsi Jawa Timur). Ditambahkan
tidak semua lokasi di Jawa Timur cocok untuk menanam kedelai, biaya produksi
mahal, hama yang cukup ganas. Saat di wawancarai Iman (penyiar Suara Surabaya),
daerah manakah yang cocok untuk menanam kedelai di Jawa Timur? Hudi Sulistyo
tidak bisa menyebutkan daerah mana.

Kalaupun masih
ada yang menjual tempe harganya bisa selangit, masyarakat yang terbiasa
mengkonsumsi tempe dengan alasan harganya lebih murah, memilih bahan lain yang
harganya lebih terjangkau.

 


Kenapa harga
kedelai impor bisa melonjak naik? Karena negara-negara pengimpor kedelai
misalnya Amerika, Tiongkok mengalami kendala cuaca tidak menentu, ditambahkan
kasus virus Covid19 masih belum teratasi. (Hudi Sulistyo)

Ah mental
tempe!
Eits jangan salah, bahan baku impor itu.

Kenapa bisa
langka? Seperti biasanya produsen, distributor, penjual sebelum ada kenaikan
harga pasti sudah ada edaran pemberitahuan atau sekadar omongan. Sudah bisa
dipastikan ini hal yang sudah direncanakan.

Lalu apakah ada
yang sengaja menimbun? Bisa jadi ada oknum-oknum terkait yangn ingin mengambil keuntungan
agar beritanya mencuat.

Jika ada yang
tidak tertarik dengan berita diatas. Ah biasa saja! masih ada bahan lain telor,
daging, ayam misalnya. Nggak usah latah, ikut-ikutan berteriak tempe kosong di
pasaran. Tapi bagi sebagian orang yang ekonomi kelas menengah ke bawah tempe
menjadi bahan pangan cukup terjangkau untuk sehari-hari.

Kedengarannya
itu hanya kedelai. Itu adalah komoditi pasar, dampaknya cukup luas bagi
ketahanan pangan nasional. Karena produk turunan kedelai cukup menyasar konsumsi
masyarakat.   

Langkanya bahan
bakau kedelai tidak terjadi kali ini saja. Di tahun-tahun sebelumnya juga sudah
pernah terjadi hal yang sama. Apakah ini sebuah siklus? jika sudah tahu
penyebabnya kenapa masih juga belum teratasi, kalau belum teratasi setidaknya
pihak terkati sudah harus mempertimbangkan atau mencanangkan untuk mengurangi
resiko kelangkaan seperti ini.

Indonesia negara
yang cukup luas lahannya, pertanian, perkebunan menjuntai dari pulai Miana
sampai Rote. Timbul pertanyaan, kenapa petani tidak menanam kedelai? Jawabannya
masih sama menanam kedelai profit tidak sebanding dengan perawatannya. Belum lagi
jika masa panen tiba, harganya anjlok, tentu sangat merugikan panen.

Karena alasan
itu petani lebih memilih menanam tanaman yang profit lebih nyata misalnya tanam
sayuran, padi, palawija.  

Kebutuhan kedelai
mencapai ribuat ton hanya untuk wilayah Jatim. Jika penyebab enggannya petani
menanam kedelai adalah tanahnya tidak cocok, hamanya banyak lalu apa kabar dengan
teman-teman yang belajar di fakultas pertanian. Pasti mereka mempelajari
keilmuwan tentang kontur tanah, jenis tanah, kesuburan tanah.

Banyak akademisi
berkecimbung di dunia pertanian dengan berbagai sub bidang pertanian. Itu artinya
banyak keilmuwan sering diperbincangkan, kenapa tidak digadeng untuk memberikan
solusi masalah  pangan di negri sendiri,
kenapa harus impor?.



Source link

  • Bagikan