//

Menyaksikan Semangat Mereka Belajar Alquran

  • Bagikan


 



Qadarullah saya
diberikan amanah memegang TPQ di salah satu kecamatan di Sidoarjo. Berawal dari
dua murid sekarang sudah hampir 35 murid, dulunya hanya sendirian mengajar
sekarang sudah bersama 2 ustadzah lainnya. 

Sebagai orang
yang lebih dulu diberi kesempatan mengetahui cara membaca alquran tidak selalu
merasa benar ketika membacanya. Kadang hal itu sering menakuti hati dan pikiran
tatkala melihat cermin dari ustadzah TPQ lain yang sudah masyallah ilmunya. Jika
berkaca diri sendiri, apalah hamba anak kemaren sore baru mengajari anak orang
lain membaca abata.

Tapi kali ini
aku tidak akan bercerita awal mula kenapa bisa nyemplung di dunia TPQ
anak-anak, karena postingan sebelumnya sudah kujelaskan.

Kali ini aku
ingin sharing cerita sederhana saat hujan tiba sore hari.

Belajar mengaji
sama halnya seperti anak belajar sepeda, butuh proses lumayan. Tidak cukup 1
minggu atau hanya 1 bulan, bahkan bisa jadi tidak terhitung berapa lamanya
proses itu dijalani hingga ia tidak terasa bahwa sudah melampaui batasan itu.

Hal itu itu yang
dirasakan anak-anak TPQ, ketika mood bagus, semangat ngajinya tidak bolong sama
sekali. Pas udah malas-malasnya ya sudah ngajinya bolong bahkan bisa seminggu
bolos ngajinya. Alhasil ketika masuk, kebingungan lagi baca jilidnya.

Aku mengajar 9
anak dalam satu sesi. 4 anak jilid 3 dan 5 anak jilid 4. Dari semua anak
terjaring dua anak yang rajin masuk mengaji. Bahkan ketika gerimis, sampai
hujan deras mereka semangat datang.

Namanya Lala
dan Thalita.
Dua anak ini memiliki background keluarga yang berbeda. Kenapa
bicara background? Jelas menarik, anak adalah cerminan keluarga dan lingkungan
sekitar saat mereka menuju tempat baru. Faktor itulah kita bisa menilai,
menghubungkan bahkan membantu mereka jika terjadi sesuatu.

Lala. Tahun ini
dia baru masuk Sekolah Dasar kelas 2, ia terpaksa mundur satu tahun karena Ibunya
telat mendaftarkan dirinya masuk sekolah. Ekonomi adalah faktor utamanya. Lala anak
pertama dari 2 bersaudara, Ibunya bekerja asisten rumah tangga dan Ayahnya
bekerja ojek online.

Dan yang bikin
terkejut Lala ini bukan anak kandung ayah yang sekarang, melainkan buah
pernikahan sebelumnya dengan orang non muslim. Sebelumnya Ibunya bercerai dia
tinggal di Jakarta dengan segala keperluan yang terpenuhi, entah datang masalah
seperti apa Ibunya memboyog pindah di sebuah desa di salah satu kecataman di
Sidoarjo.

Sekarang Lala
dan keluarganya tinggal dalam kamar sepetak alias kos-kosan. Dengan segala
kekurangannya Lala tidak pernah menunjukkan wajah sedih dihadapan temannya. Entah
apakah dia sudah lihai menyembunyikan perihal nasib yang dideritanya.

Sampai-sampai Ibunya
sering memohon untuk keringanan bayar SPP agar bisa dibayar dobel bulan depan,
pengurus TPQ pun memahami kondisi keluarganya. Mau bagaimana lagi, lebih
berdosa lagi kita jika ada orang ingin sekali mengaji harus terkendala karena
biaya.

Pertama kali
datang ke TPQ, dia tidak tahu apa itu bedanya ا ب ت

Sekarang dia
sudah belajar di jilid 4. Akumengamati betul proses Lala terheran-heran, dulu
dia tidak mampu membedakan huruf hijaiyah sekarang perlahan ia bisa membaca
penggalan ayat alquran masyallah.

Diam-diam aku selalu
mengamati dia saat di kelas. Meski teman-temannya kadang memperlakukan diirinya
tidak seperti teman-teman lainnya, dia tetap memiliki cara tersendiri untuk
mengambil hati teman lainnya.

Di sela-sela
mengaji, jika yang datang hanya 2 orang kerap ia menceritakan kebiasaan wajib
yang harus ia jalani. Dari mulai uang jajan hanya seribu rupiah dalam sehari, di
umur masih belia ia sudah diberi tanggungjawab beres-beres perabotan di
kos-kosan, dan mengurangi jatah main dengan temannya karena harus menjaga
adiknya berumur 4 tahun. ia harus berbagi tugas ibunya, agar perekonomian dalam
keluarganya tetap berjalan.

Sempat terpikir
seperti ini, Lala adalah ciri anak yang dipaksa dewasa sebelum umurnya. Dengan keterbatasan
ekonomi ia harus bisa membagi waktu antara membantu pekerjaan Ibunya dan
keinginannya bermain bersama teman-teman.

itulah Lala
dengan segala keterbatasannya, tidak menyurutkan niat baiknya mempelajari Al
Quran. Semoga kelak ia menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang-orang
disekitarnya untuk kembali mengajarkan alQuran pada orang lain.

Murid kedua
adalah Thalita kelas 1 SD, kehidupannya berbanding terbalik dengan Lala. Dia berasal
dari background keluarga mampu. Dia adalah murid terkecil dalam kelas ku,
pasalnya badannya kecil tapi sudah jilid 4, jilid yang dimiliki anak-anak jika
kelas 3 keatas.

Kecil-kecil
cabe rawit
itulah julukan yang pas untuk Thalita. Dia masuk TPQ baru akhir
tahun 2020 kemarin, saat masa pandemi karena materi mengaji di sekolah
diajarkan secara daring. Ibunya memutuskan untuk mengantakan mengaji ke TPQ,
karena dirasa mengaji secara daring yang dilakukan pihak terkesan lambat.

Bisa dibilang
kehidupan Thalita 100% berbeda dengan Lala. Dari sisi semangatnya hampir lebih
sama dengan Lala. Mungkin jika dia tidak masuk mengaji Ibunya Thalita
meninggalkan pesan via whatsapp, kalau tidak bepergian luar kota ya sakit.

Berhubung sekarang
masih musim hujan, tidak lain hujan kerap datang sore hari. Suasana anak-anak
akan malas datang ke TPQ jika hujan sudah datang. Justru Thalita adalah anak
paling bersemangat datang jika pas berangkat itu hujan.

Meski berangkat
mengenakan jas hujan diantar ibunya mengendarai sepeda motor, dengan intensitas
hujan tidak ringan ia semangat datang ke TPQ. Ibunya sendiri yang mengatakan.

Melihat semangatnya
datang ke TPQ untuk mengaji, membuat diriku ini malu. Kadang hujan tidak deras
saja sudah muncul benih-benih untuk tidak datang ke TPQ. Ya kali kalah ciut
sama anak-anak malu dong sama umur.

Saya banyak
belajar kehidupan dari mereka berdua sebagai anak-anak. Pelajaran tidak selalu
diambil dari sebuah perkuliahan atau seminar berbayar, dari kisah anak-anak pun
terselip pesan kehidupan yang tidak tertulis dalam pesan berantai.

Tidak ada
salahnya kita meniru semangat mereka untuk haus akan ilmu-ilmu yang belum kita
pelajari. Anak-anak adalah dunianya bermain, setelah hari itu anak-anak adalah
dunia melebih fantasi yang harus kita pelajari.

 



Source link

  • Bagikan