//

Refleksi Akhir Pekan [1] – kuratailmu

  • Bagikan



Bismillahirrohmanirrohim kali ini
saya ingin berbagi cerita kepada kalian semua tentang secuil adegan hidup yang
sudah saya lalui dan temui sengaja atau disengaja dalam sepekan. Besar harapannya
agar adegan yang sudah saya lalui bisa diambil hikmah kemudian dijadikan
pelajaran bagi pembaca semuanya.

Ayah dan Ibu tiap bulan selalu
menghadiri pengajian rutin di salah satu Pondok Mahasiswa di Surabaya namanya
Al Jihad, diasuh oleh KH. Imam Chambali. Salah satu program di pondok itu
bernama Dasa (Dana Sosial). Program kebaikan semacam tabungan akhirat, yakni
mengajak para jamaah maupun masyarakat umum untuk berinfaq di jalan Allah secara
rutin tiap bulan, bisa melalui rekening atau dijemput oleh petugas.

Yang sudah berpartisipasi alias
berdonatur, pihak Dasa akan memberikan semacam reward bagi para donaturnya,
misalnya berupa majalah, payung dan sisanya aku lupa, disesuaikan dengan jumlah
nominalnya. Bertepatan ini akhir tahun, ibuku dikasih kalender 2021
alhamdulillah.

Nah walaupun orang tua saya sudah
berkali-kali ikut pengajian belum, ternyata belum ada keinginan untuk gabung
Dasa. Baru 3 bulan terakhir ini ikut program dasa, hal itu ku ketahui dari
bukti kwitansi yang tergeletak di ruang tamu.

Adegan ini yang membuat mata dan
hati terkejut bukan kepalang. Kalau biasanya yang menyerahkan uang kepada
petugas Dasa itu orang tuaku, kali ini aku yang dititipi untuk menyerahkan
uang.

Kukira yang bertugas mengambili uang
Dasa itu semacam Bapak-Bapak, eh ternyata masih muda masih mas-mas kuliahan
gitu. Terkejutnya bukan disitu, tapi dari cara berbicara, menyampaikan maksud
kepada orang lain itu yang sangat sopat sekali, kalau ada level 100 koma satu,
mungkin mas itu masuk level itu. asli deh tutur bahasa jawa halus, ditambah
sikapnya saat pembicaraan dipotong Ibu masih terlihat sopan kebangetan.

Kaget dong, suara hatiku ikutan
berbicara nih jadinya

“Wagelash dia yang tugasnya
ngambilin uang dari para donatur, waktunya nggak sampai semenit tiap rumah,
halus bicaranya dan sopan kelakuannya, sedangkan aku yang profesinya pendidik
nggak bisa semanis dan sehalus itu kalau sama wali murid yang ngeselin. Tapi mas
petugas itu ramahnya bikin damage”.

Setelah petugas itu pergi, kepo
dong aku. Tanya ke ibu, “Yang ambil uang ke para donatur memang masih muda-muda
Bu?”.

Ya iya, santri-santri yang mondok
di situ, masih kuliah biasanya. Kadang gonta-ganti orangnya, nyantri disitu
harus siapa mengabdi di pondok.

“Terus kalau gaya berbicara
memang gitu Bu?”.

Ya iya lah, di sana itu nggak ada
orang jahat, judes kayak sampean, semua santrinya sopan-sopan. Memang di didik
Bu Luluk (istri pengasuk pondok) seperti itu untuk menghargai orang, jadi
manusia itu harus bertutur halus dan lembut pada siapapun.

Secara Ibu tahu semua, rutin tiap
bulan pengajian di pondok.

Dari adegan pendek itu ada hikmah
yang bisa kita ambil, 1) bertindak sopan, bertutur kata lembut dan sopan dengan
siapapun tanpa memandang status, 2) tetap rendah diri walau dipuji sesaat, 3)
tamparan keras bagi yang nulis ini, karena kadang tidak bisa mengontrol diri
jika bertemu orang menjengkelkan, 4) belajar mengurangi sikap judes terhadap
orang lain.

Setiap tempat adalah pelajaran,
setiap waktu adalah kesempatan. Tidak akan ada perubahan dalam diri kita
sendiri, jika tidak mau memulai detik ini. Terimakasih sudah menyempatkan waktu
membaca refleksi akhir pekan kali ini. Sampai bertemu di refleksi akhir pekan
berikutnya.

 



Source link

  • Bagikan