//

Tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental, Peran Keluarga Dalam Pencegahan Perilaku LGBT

  • Bagikan


 



PENDAHULUAN

 

A.   
Latar belakang

Pemberitaan LGBT (lesbian, gay,
bisexual, transgender
) kembali mencuat di pertengahan tahun 2018 setelah beredar
info di akun gosip lambe turah bahwa Lucinta luna sebenarnya berjenis kelamin
laki-laki. Mengutip dari laman tribunpekanbaru.com publik figur yang mendadak
tenar tampil seksi sebagai pedangdut personil Duo Bunga tersebut dikabarkan
seorang trangender bernama asli Muhammad Fattah.

Beredar juga video lucinta luna melakukan operasi kelamin merubah dirinya menjadi
perempuan seutuhnya hanya untuk laki-laki yang dicintainya.
Kasus
transgender seperti lucinta luna yang menggegerkan publik Indonesia bukan
pertama kalinya, pasalnya diawal tahun 90an ada publik figur ternama yang sudah
lebih dulu melakukan trangender demi karena merasa dalam dirinya lebih condong
sifat perempuan daripada laki-laki. Sebut saja Dorce gamalama bernama asli Dedi
Yuliardi Ashadi sejak usia 10 tahun merasa dirinya lebih condong sifat
perempuan. Memasuki usia 20 tahun merasa kebingungan tentang jati dirinya, lalu
mulai berfikiran melakukan operasi di payudara. Operasi ganti kelamin dilakukan
saat berusia 25 tahun (1987) melewati proses yang panjang hingga berkonsultasi
dengan kyai “kalau air senimu keluar dari lubang seperti halnya kaum perempuan,
maka kau sah sebagai perempuan”.

Menyikapi contoh kasus diatas maka
tidak lain dan tidak bukan LGBT sudah bisa dikatakan dilegalkan. Terselip kabar
bahwa telah beredar info Pengadilan Negeri melegalkan izin pergantian kelamin.
Hal ini tentu menyalahi kodrat, norma dan nilai-nilai agama. Meskipun kelompok
LGBT sangat tidak diterima dalam masyarakat, bahkan jumlahnya yang tidak
diketahui dengan jelas. Masyarakat lebih menganggap LGBT sebagai perusak agama,
keluarga, dan lingkungan. Didasari dengan kebencian, cemooh, hinaan, jika
mendengar pemberitaan LGBT, terlebih jika beredar rumor waktu itu salah satu
karyawan Gojek mendukung LGBT, sontak para netizen  pengguna app gojek melakukan protes
bertajuk #Uninstallgojek. Sebagai wujud ketidaksetujuan jika gojek mendukung
LGBT.

Dalam pandangan Islam LGBT masuk
dalam jenis dosa besar. Larangan melakukan perilaku LGBT terdapat dalam sabda
Rasulullah SAW yang diriwayatkan Tirmidzi, al-Hakim, dan Ibnu Majah
“Sesungguhnya yang amat ditakuti, paling aku takuti atas umatku ialah perbuatan
kaum Nabi Luth” (HR at-Tirmidzi, alHakim, dan Ibnu Majah). Dari hadis tersebut
sudah jelas bahwa perilaku LGBT atau tindakan seksual sesama jenis sangat
dilaknat oleh Allah SWT. hal tersebut juga tercantum dalam beberapa ayat
Alquran tentang kaun Nabi Luth salah satuya adalah Q.S al-A’raf [7]: 80-82.
Ayat tersebut menceritakan ketika Nabi Luth a.s kedatangan tamu-tamu tampan,
yang tak lain ialah malaikat yang menyerupai manusia. Kaum Nabi Luth
(laki-laki) mengetahui hal tersebut tidak sungkan memulai manja mendekati
tamu-tamu Nabi Luth a.s. namun Nabi Luth a.s melarang mereka, jusru Nabi Luth
a.s menawarkan agar putri-putrinya untuk mereka nikahi. Namun mereka menolak tawaran
Nabi Luth karena lebih tertarik dengan sesama laki-laki dibanding perempuan.
Akibat dari perbuatan kaum nabi Luth iu Allah memberikan azab berupa hujan batu
berapi dan kota mereka dijungkirbalikkan hingga benar-benar tiada yang tersisa.
Islam sendiri menyebut tindakan seksual sesama jenis disebut liwath.

Jika merujuk pada hukum di
Indonesia, belum secara pasti merinci dan memuat tentang LGBT. Namun dalam Undang-undang
NO.1 tahun 1974 tentang perkawinan mengatur dengan jelas syarat-syarat
perkwainan diataranya dengan lawan jenis. Pasal 1 UU Nomor 1 tahun 1974
berbunyi:

“Perkawinan adalah ikatan batin antara seorang pria dan seorang
wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhana Yang Maha Esa”.

 

Dari pernyataan pasal tersebut sudah
disebut secara jelas dan gamblang bahwa pernikahan laki-laki dan perempuan akan
terbentuk keluarga yang harmonis, bukan antara laki-laki dengan laki-laki
ataupun perempuan dengan perempuan.

LGBT dilarang tumbuh di Indonesia
juga diperjelas fatwa Majelis Ulama Indoneisa (MUI) dan Ormas Islam yang
ditegaskan Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin dalam konferensi pers di Kantor MUI,
Jakarta Pusat tanggal 1 Februari 2016 bahwa aktivis LGBT diharamkan oleh Islam.
lebih lanjut MUI sudah mengeluarkan fatwa MUI Nomor 57 Tahun 2014 tentang
Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan. Dalam fatwa tersebut dijelaskan bahwa
aktivis LGBT diharamkan, karena merupakan bentuk kejahatan, dapat menimbulan
penyakit berbahaya bagai keseharan dan sebagai sumber HIV/AIDS.

Saat ini, penyebaran LGBT sudah
menyasar anak-anak dan remaja. Kasus terungkapnya prostitusi online gay oleh
tim Subdit Cyber Crime Polri di sebuah hotel di daerah Cipayung Bogor September
2016. Tujuh anak Indonesia masih dibawah umur dan satu remaja berusia 18 tahun
menjadi korban. Mereka ditawakan di Facebook seharga RP. 1,2 juta oleh AR (41)
tersangka. Namun anak-anak dari keluarga tidak mampu hanya diberi jatah Rp. 100
ribu hingga Rp.150 ribu. Lebih mencengangkan lagi, sudah 99 orang anak menjadi
korbannnya selama AR menjalankan bisnis prostitusinya.

Ketika LGBT sudah merambah dunia
anak-anak dan remaja maka lingkungan pertama yang paling bertanggung jawab
adalah keluarga. keluarga yang mampu memberikan pencerahan, aura positif pada
setiap anggota keluarganya. faktor klise penyebab anak-anak terjerumus dalam
dunia LGBT salah satunya ialah anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang
yang pantas di usianya misalnya sering dibentak atau dimarahi Ayah dan Ibu.
Mengakibatkan anak-anak tidak betah berada dirumah, mencari kesibukan lain
dengan hal baru yang menurut dirinya jauh lebih baik dan mendukung suasana
psikisnya. Anak-anak dan remaja adalah dalam fase mencari jati diri yang
memerlukan pegangan, dukungan dari berbagai pihak, namun jika pihak yang dia
miliki sendiri saja acuh tak acuh. Lalu bagaimana akan terbentuk keluarga yang
harmonis? Oleh karena itu sangat penting sekali bagi para orangtua untuk
mengerti, memahami dan mengedukasi pentingnya anak-anak mereka mengetahui LGBT
serta bagaimana pencegahan jika sudah terjadi, akan dibahas dalam makalah kami
yang berjudul PERAN KELUARGA DALAM MENANGANI KASUS LGBT.   

 

B.    
Rumusan masalah

1.     
Apa
saja kasus LGBT yang pernah terjadi dan bagaimana penanganannya?

2.     
Bagaimaan
peran keluarga dalam mengedukasi putra-putrinya akan bahaya LGBT?

  

C.   
Tujuan

1.     
Untuk
mengetahui kasus

2.     
Untuk
megetahui peran keluarga dalam mengedukasi putra putrinya akan bahaya LGBT

 

PEMBAHASAN

 

A.   
Kasus LGBT

Berbicara LGBT singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan
Transgender adalah penyakit yang bisa dikatakan sulit untuk diperangi jika
sudah menjalar. Mereka terdiri dari berbagai komunitas yang sulit dideteksi.
Lebih dari itu orang-orang yang disebut LGBT merubah fungsi bentuk ciptaan
Tuhan seutuhnya sehingga jika mausia bisanya melihat akan terlihat tidak
terjadi masalah apa-apa dalam dirinya tersebtu.

Lesbian merupakan penyuka sesama jenis perempuan lebih berorientasi
mencitai baik itu secara fisik, seksual atau emosional. Gay atau homo adalah
lelaki memiliki kecenderungan seksual pada pria. Biseksual sual adalah penyuka
sesama lawan jenisnya. Transgender adalah orang yang cara penampilan dan
perilakunya tidak sesuai dengn gendernya sendiri pada umumnya, bahkan lebih
dari mereka siap dan rela mengganti jenis kelamin misal seperti pria mengubah
jenis kelaminnya menjadi perempuan.
Homoseksualitas
adalah kesenangan terus menerus yang melibatkan kawan sesama jenis dengan
disengaja untuk memuaskan diri sendiri dan melibatkan diri dalam dunia fantasi
atau perilaku seksual dengan sesama jenis.

 

Faktor yang menyebabkan seseorang menjadi LGBT

1.     
Faktor
moral dan akhlak

Homoseksual ini
juga bisa dipicu karena bertolak belakang dengan norma-norma yang diterbitkan
di masyarakat dan kerontokan iman seseorang juga menjdai pemicu segala
kejahatan yang terjadi. Sebab hanya iman sajalah yang mempu menggerakkan diri
seseorang dalam hal penyimpangan sosial.

2.     
Pengetahuan
agama yang rendah

Pengetahuan
ialah sumber bagi manusia dalam melihat dan menilai lingkungan tempat dia
berkembang. Ilmu secara umum menjad penyumbang penting dalam pemahaman mereka,
lebih dari itu perlu diimbangi pengetahuan agama sebaai penyeimbang dan
rambu-rambu membedakan yang baik dan buruk. Agama sebaga keyakinan rohani yang
akan selalu mengingatkan manusia jika manusia sudah mulai agak terjerumus dalam
keburukan, melibatkan Tuhan sebagai pemilik seisi dunia bahwa semua perbuatan
akan selalu dipantau-Nya, semua kejadian akan mendapat balasan dari-Nya.

3.     
Biologis

Menurut
penelitian yang pernah dilakukan seorang homoseksual memiliki kecenderungan
melakukan homoseksual karena mendapat dorongan dari dalam tubuh. Penyimpangan
faktor genetika dapat diterapi secara moral dan secara religius, bagi golongan
transgender misalnya, karakter laki-laki dari segi suara, fisik, gerak-gerik
dan kecenderungan wanita banyak dipengaruhi oleh hormon testeron. Bila hormon
testeron seseorang itu rendah, ia bisa mempengaruhi perilakuk-laki tersebut mirip
dengan perempuan.

4.     
Pergaulan
dan lingkungan

Pergaulan dan
lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar
terhadap penyimpangan seksual. Dimana jika dalam keluarga tidak menujukkan
cinta kasih dan sikap orangtua yang baik itu bisa menjadikan anak berperilaku
menyimpang. Kurang penanman agama sejak kecil juga bisa menjadikan anak
berperilaku menyimpang. Selain itu pergaulan dan lingkunganyang salah dengan
mudah menjerumuskan anak dalam perilaku menyimpang.

5.     
Keluarga

Adanya trauma yang
terjadi dimasa kecil seperti si anak dikasari oleh Ayah/Ibu hingga si anak
beranggapan semua pria/perempuan bersikap kasar, bengis dan panas bara yang
memungkinkan si anak merasa benci pada orang itu. Hal ini bisa disebabkan dalam
rumah tangga yang tidak/kurang terbina, sehingga anak menjadi pelaku
penyimpangan seksual selain dari kekerasan yang dirasakan baik secara mental,
fisik, maupun seksual.

6.     
Orangtua
yang tidak peduli

Kebanyakan
orang tua masa bodoh terhdapa masa kembang anak, dirasa anak-anaknya baik-baik
saja ya its ok. Orang tua tidak memperdulikan anaknya bisa jadi karena faktor
ekonomi kurang mencukupi orang tua harus ekstra kerja keras untuk memenuhi
kebutuhan anak sehingga mengabaikan perhatian pada anak, faktor sosial yang
menganggap anak terlihat baik-baik saja tanpa dibimbingnya. Hal ini dapat
menyebabkan anak lemah dalam berfikir untuk mengambil keputusan. Itu sebabnya
anak laki-laki tidak memahami dengan puas peran Ayah, sama hal nya anak
perempuan yang tidak memahami denga jelas peran Ibu.

7.     
 Hilangnya peran ayah

Tidak sedikit
para orangtua keliru mendidik anak laki-laki?. Why boy? Menurut penelitian otak
kiri laki-laki lebih kuat dibanding otak kiri perempuan. Namun sambungan antara
otak kanan dan kiri lebih baik. keistimewaannya para laki-laki sangat mudah
fokus pada satu hal berbeda dengan peran yang mmapu memikirkan banyak hal dalam
satu waktu. Anak laki-laki menjadi banyak yang salah asuh disebabkan karena kurangnya
sosok Ayah dalam mengasah otak kirinya. Kebanyakan sosok Ayah sibuk mencari
nafkah, hanya ada waktu jika malam tiba atau hanya wekeend saja. Untuk itu ayah
perlu memanajemen waktunya agar bisa meluangkan waktu dapat bermain dan
berinteraksi dengan anak-anaknya

8.     
Anak
laki-laki terlalu banyak berinteraksi dengan Ibu. Peran ayah sebagai kepala
keluarga yang harus mencari nafkah dan mewajibkan ibu lah yang mendidik
anak-anak laki-lakinya. Hal ini yang mempengaruh anak laki-laki tidak memiliki
role model identifikasi terhadapa seorang laki-laki, dan bagaimana bersikap
sebagaimana laki-laki. Dikhawatirkan menjadi pemicu anak menjadi LGBT.

9.     
Bebas
menggunakan Gadget hal lain yang jadi pemicu anak menjadi LGBT ialah para
orangtua belum paham fungsi smartphone seutuhnya. Anak laki-laki menjadi
sasaran utama pornografi dan narkoba. Kurangnya pengawasan orangtua terhadap
anak-anaknya dalam mengoperasikan smartphone, maka anak bebas untuk
menggunakannya tanpa ada perjanjian batasan yang diberikan orangtua kepada anak.

10. 
Anak
terpapar pornografi semuanya berawal dari gadget, semuanya berawal dar gadget,
dari segala aplikasi yang ada didalam smartphone. Segala informasi secara luas
bebas diakses tanpa diketahui itu negatif atau positif dengan mudah anak-anak
melihatnya. Kasus seperti ini dimulai dari kecil ketika anak menangis oranguta
pun kebingungan solusi terbaik menurutnya diberikan gadget sejak dini agar diam
da tidak mengganggu urusan orangtuanya. Pada akhirnya mengalahkan peran
orangtua, dan yang terjadi orantua menjad penegak hukum ketika anak menjadi
soso berbeda dihadapan orangtuanya. Pornografi masuk melalu mata, diolah dengan
hati, pada akhirnya merangsang dopamin yang bisa menyebabka ketagihan sehingga
berusaha meniru bahkan berusaha mencoba-coba.

 

Beberapa kasus LGBT yang terjadi di dalam negeri

Beberapa kasus di bawah in termasuk kasus yang paling disorot dunia
di tahun 2017

1.     
Pesta
Gay Kelapa Gading

Penggrebekan
diduga pesta seks gay di kelapa Gading Jakarta Utara, mengaetakan Indonesia.
Sebab ada lebih dari 100 orang ditangkap aparat. Foto-foto yang berdar liar
dari lokasi kejadian memperlihatkan tubuh-tubuh tersangka yang nyaris
telanjang.

2.     
Hukum
Cambuk Pasangan Gay Aceh

Terdakwa
pasangan gay(liwath) berinisial MH (20) dan pasangannya, MT (24), menjaalani 80
kali hukuman cambuk didepan umum. Eksekusi hukuman dilaksankan pada selasa
(23/5/2017) dihalam masjid Syuhada, Lamgugob, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

Pasangan
sejenis itu didakwa melanggar pasal 63 ayat 1 juncto Pasal 1 angka 28 Qanun
Nomor 6 Tahun 2014 mengenai hukum jinayah, Pasal itu berbunyi, “setiaporang
yang sengaja melakukan perbuatan liwath diancam hukuman paling banyak 100 kali
cambuk atau denda paling banyak 1.000 gram emas murni atau penjara paling lama
100 bulan.

Kasar pol PP
dan WH Kota Banda Aceh, Yusnardi, menyatakan kasus liwath atau hubungan sesama
jenis itu baru pertama kali ditemukan setelah Qanun (Peraturan Daerah di Aeh)
Nomor 6 Tahun2014 tentanh Hukum Jinayah mulai berlaku.

“Ya mungkin
masyarakat diluar Aceh merasa asing (dengan Peraturan Qanun Jinayah di Aceh),
karena memang perbuatan liwath ini diluar tidak terlalu diatur ya. namun karena
kekhususan Aceh, dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 tentang syariat Islam
yang dengan rinci mengatur soal ini” ujar Yusnardi

Kejadian ini disorot
media asal Inggris, mereka menulis artikel berjudul ‘No place hide for LGBT
people in Indonesia’s Aceh province’.

3.     
Pernikahan
Gay di Bali

September
2015,waga Bali dihebohkan dengan pernikahan pasangan dua pria dengan beda warga
negara di sebuah hotel di daerah Ubud Kabupaten Gianyar Bali. Pernikahan itu
dihadiri pemangku agama Hindhu dan dihadiri oleh kedua orangtua salah satu
mempelai pasangan sejenis itu.

Ulah pasangan
ini membuat gubernur Bali, Made Mangku Pastika, naikpitam. Made Mangku menegaska
bahwa hal it sangat dilarang, apalagi menurut agama Hindhu. “ndak boleh itu,
diman itu. Menurut agama Hindu sangat dilarang itu. Makanya pingin tahu dimana
persisnya lalu kita tegur. Kita sampaikan ke Majelis Desa Pakraman atau Majelis
Desa Madya. Saya kira itu benar.

4.     
Pesta
Gay Surabaya

Awal bulan Mei
masyarakat Surabaya dihebohkan dengan pesta Gay yang diduga dilakukan di dua
kamar di Hotel Oval Surabaya. Dalam kejadian tersebut sebanyak 14 orang
doitangkap. Satreskrim Polrestas Surabaya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan
Kota Surabaya menggelar tes Infeksi Menular Seksual (IMS) terhadap belasan
pesta itu.

Dari hasil
tersebut mengejutkan dimana lima dari 14 orang peserta seks gay positif
menghidap Human Immunodeficiency Virus (HIV). Peristiwa ini disorot kantor
berita Perancis AFP. Mereka menulsi judul pemberitaan Indonesia Men Facing
15 Years In Prison For ‘Gay Party’.

Mengutip
pernyataan Shinto dua orang yang diduga pelaksana pesta seks tersebut terancam
hukuman maksimal 15 tahun penjara.

 

B.    
Keluarga

Keluarga
merupakan orang yang tinggal dibawah suatu atap atau tempat, institusi terkecil
yang berada di dalam sebuah masyarakat yang terdiri dari ibu, ayah dan
anak-anaknya yang memiliki ikatan, tanggung jawab dan dalam keadaan saling
ketergantungan antara individu tersebut.

Sedangkan Keluarga menurut pandangan murdock menjelaskan bahwa suattu kelompok
sosial (grup sosial) yang dicirikan yang mana kerjasama anatara dua jenis
kelamin dengan tempat tinggal bersama, paling kurang dua darinya atas dasar
pernikahan dan suatu atau lebih anak yang tinggal bersama mereka melakukan
sosialisasi.

            Keluarga merupakan dua atau lebih individu yang berada
dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi
yang mana meraka mempunyai peran masing-masing yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan
sosial dari individu- individu yang ada di dalamnya terlihat dari pola
interaksi yang saling ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama.

            Keluarga ialah salah satu lembaga sosial dimana mempunyai
tugas, tanggung jawab untuk mengubah organisme biologi menjadi manusia,
sehingga dapat memberikan sebuah persamamaan, bahwa untuk mengubah orgasme
biologis menjadi orgasnisme sisologis membetuhkan keluarga sebagai agen tempat
mengenal dan mempelajarai prototype peran tinggkah laku yang dikehendaki
dan modus orientasi penyesuian diri dengan yang dikehendaki dan modus orientasi
penyesuian diri dengan lingkungan sosilanya. Begitu dekatnya peran atau hubungan
yang dirasakan anak dengan keluarganya, membuat keluarga menjadi satu-satunya
institusi sosial yang relative permanen dalam menjadi fungsi sosialnya. Hal ini
dimungkinkan karena keluarga dibentuk dari ikatan emosonalnya (dorongan yang
paling kuat dari sifat organis manusia untuk saling memilih satu dengan yang
lainya antara anggotanya.

            Menurut pandangan Elliot dan Meril mengatakan bahwa
keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang
mempunyai tempat tinggal yang sama atau lebih dan bertempat tinggal yang sama
yang mempunyai hubungan darah dan perkawinan. Hal ini sejalan dengan pendapat
Vembriarto mengemukakan bahwa keluarga adalah kelompok sosial yang terdiri dari
ayah, ibu dan anak-anak yang mempunyai hubungan emosi dan tanggung jawab dan
memelihara yang menimbulkan motivasi dan bertanggung jawab.

            Dari pengertian keluarga diatas dapat disimpulkan bahwa
keluarga adalah unit terkecil yang berada didalam masyarakat yang dibangun atas
pernikahan atau perkawinan  yang terdiri
dari ayah/suami, ibu/istri dan anak. Yang mana meraka saling ketergantungan
satu sama lain serta memiliki perasaan beridentitas dan berada dari anggota dan
tugas utamanya keluarga adalah memelihara kebutuhan psikososial
anggota-anggotanya dan kesejahteraan hidupnya.

C.   
Peran dan fungsi keluarga secara umum

Peran adalah pola perilaku individu yang berulang dan dijalankan
sesuai dengan fungsi dalam kehidupan keluarga hari kehari. Peranan
menggambarkan struktur keluarga dan memelihara proses interaksi dalam keluarga.

a.   
Ayah

Ayah adalah kepala keluarga, sebagai kepala keluarga sorang ayah
mempunyai tugas mencari nafkah untuk memenuhi segala kebutuhan keluarganya,
melindungi keluarganya dari gangguan-gangguan atau marahbahaya dan ayah juga
mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pendidikan anaknya.

b.   
Ibu

Seorang ibu dalam keluarga mempunyai peran sebagai kepala rumah
tangga yang mana seorang ibu bertanggung jawab yang utama atas anak-anaknya.
Tugas sorang ibu tidaklah mudah sebab ia harus mengurus dan memperhatiakan
keluarga, ibu mempunyai tugas menyediakan nmakan untuk keluarga, mengasuh anak,
membersihkan rumah, mengatur keuangan keluarga serta memperhatiakn pendidikan
anaknya.

c.   
Anak

Anak
mempunyai peranan yaitu sebagai anggota dalam keluarga yang mana tugas seorang
anak berbakti, menghormati terhadap orang tua dan belajar. Anak juga mempunyai
hak dalam perlindungan dan pendidikan dari orang tua.

 

Fungsi
keluarga

Keluarga merupakan wadah atau tempat kehidupan yang mana setiap
individu mempunyai peranan penting dalam membina dan mengembangkan individu
yang bernaung didalamnya. Selain itu, keluarga adalah tempat paling dini dimana
dalam proses sosialisasi tiap anggotanya dalam menuju pergaulan di msyarakat
yang lebih kompleks dan lebih luas. Kebutuhan fisik seperti kasih sayang dan
pendidikan dari anggota keluarga dapat dipenuh. oleh keluarga, oleh sebabnya
untuk mememnuhi kebutuhan tersebut walaupun tidak secara tegas dan formal,
anggota kelurga telah memainkan peran dan fungsi masing-masing.

Menurut
pandangan Wiliam F. Ogburn, fungsi keluarga adalah

a.      
Fungsi
pelindung yaitu keluarga mempunyai peran memelihara, merawat dan melindungi
anak baik fisik maupun sosialnya. Fungsi ini tidak hanya dilakukan sendiri
tetapi banyak dilakukan oleh badan-badan sosial seperti tempat perawatan bagi
anak cacat, anak yatim piayatu, anak nakal dan perusahaan auransi. Dalam hai
ini keluarga berkrwajiban untuk berusaha agar anggota keluarganya terlindungi
dari gangguan-ganguan seperti ganguan udara berusaha menyediakan rumah dan lain
sebagainya.

b.     
Fungsi
ekonomi ialah keluarga dalam hal ini bertugas berusaha menyelenggarakan
kebutuhan manusia yang pokok yakni diantaranya makan dan minum, kebutuhan
pakaian untuk menutupi tubuhnya dan kebutuhan akan tepat tinggal oleh sebeb itu
sebagai orang tua wajib untuk berusaha keras agar supaya anggota keluarganya
dapat tercukupi segala kebutuhan bahan pokok, pakaian dan tempat tinggal.

c.      
Fungsi
pendididikan adalah keluarga keluarga sejak dahulu merupakan institusi
pendidikan. Dahulu keluarga merupakan satu-satunya institusi untuk
mempersiapkan anak agar dapat hidup secara sosial dan ekonomi dimasyarakat.
Sekarangpun keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan
utama dalam mengembangkan dasar kepribadian anak. Selain itu keluarga/orang tua
menurut hasil penelitian psikologi berfungsi sebagai faktor pemberi pengaruh
utama bagi motivasi belajar anak yang pengaruhnya begitu mendalam pada setiap
langkah perkembangan anak yang dapat bertahan hingga ke perguruan tinggi.

d.     
Fungsi
rekreasi, yaitu keluarga merupakan tempat/medan rekreasi bagi anggotanya untuk
memperoleh afeksi, ketenangan dan kegembiraan.

e.      
Fungsi
agama, yaitu Keluarga mempunyai fungsi religius. Artinya keluarga berkewajiban
memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan
beragama. Untuk melaksanakannya orang tua sebagai tokoh inti dalam keluarga itu
serta anggota lainnya terlebih dahulu haurs menciptakan iklim atau suasana
religus dalam keluarga itu. Agama adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia
yang ada sejak dalam kandungan. Keluarga adalah tempat pertama seorang anak
mengenal agama. Keluarga juga menanamkan dan menumbuhkan serta mengembangkan
nilainilai agama, sehingga anak menjadi manusia yang berakhlak baik dan
bertaqwa.

 

 

D.   
Peran keluarga dalam pencegahan LGBT

Dalam upaya mencegah anak-anak dan remaja agat tidak terjebak atau
terbawa arus LGBT semua pihak lingkungan harus ikut berperan serta menciptakan
suasana nyaman dan kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak dan
remaja. Baik itu lingkungan keluarga, sekolah, tempat bermain. Lingkungan
paling dekat yang harus aktif berperan adalah keluaga, karena keluarga orang
paling dekat dengan anak dan termasuk sumber pendidikan pertama bagi sang anak.
Oleh karena peran orang tua sangat penting dalam mengedukasi anak akan bahaya
LGBT dimulai sejak dini.

Keberhasilan orang tua dalam mendidik karakter dan mengajarkan
kebiasaan baik kepada anak dimulai sejak dini berikut upaya yang mulai bisa
dilakukan untuk mengedukasi anak-anak agar mengerti LGBT:

a.      
Konsep
Ayah

Peran ayah
sangat dibutuhkan dalam pola perkembangan anak, pengalaman yang dialami anak
bersama Ayah akan mempengaruhi seorang anak hingga dewasa nanti. Tanggung jawab
kebersamaan ayah dan ibu dalam menjalankan pengasuhan cukup tinggi, karena 86%
responden menyatakan bahwa pengasuhan anak adalah tugas bersama. Temuan
mengenai rata-tara waktu digunakan ayah dalam berinteraksi dengan anak adalah 6
jam. Secara kuantitas dapat dikatakan bahwa waktu ayah bersama anak cukup
memadai untuk melakukan aktivitas bersama anak.

b.     
Peran
Keluarga

Pola hubungan
dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan seksual anak.
Berbagai aktivitas orang dewasa berlangsung didalam rumah memberi dampak
seksual pada anak. Siapapun tentu tidak menginginkan anaknya berkembang tidak
normal, baik segi fisik, moral, seksual, kecerdasan dan tingkah laku.

Pada segi
seksualitas, hubungan harmonis, kasih sayang dalam keluarga memperhatikan  perbedaan jenis kelamin sangat baik agar
tidak mengalami kelainan seksual. Hal yang dapat dilakukan pada lingkungan
keluarga yakni:

1)     
Berperan
serta dalam pencegahan LGBT

2)     
Memiliki
perhatian lebih, saat mulai mengalami atau memberi tanda-tanda perilaku
menyimpang, dengan sigap memberikan teguran atau nasehat sehingga anan tidak
salah arah.

3)     
 Ikut mengawasi gerak anak meskipun diluar
rumah. Seperti orangtua harus mengerti siapa teman dekat anaknya dengan meminta
nomor telpon temannya.

4)     
Orangtua
bersama anak terus belajar mempedalam ilmu agama baik itu melalui kajian
ditempat atau sekadar sholat berjamaa, ngaji bersama sehabis maghrib.

 

c.      
Peran
Ayah

Peran pertama,
ayah memberikan perhatian dan kasih sayang pada anak-anaknya, bisa berupa
menjalin komunikasi secara langsung seperti mengajak anaknya bemain sambil
berdialog memberikan respon apresiasi atas yang sudah dikerjakan oleh anak.
Secara tidak langsung jika ayah kerja dari pagi hingga malam, sesibuk apapun
tetap berkomunikasi walau hanya menyakan kabar (sudah makan atau belum). Bentuk
perhatian sekecil itu akan sangat berharga bagi anak, mengingat anak merasa di
istimewakan hal ini yang mampu membuat tidak mungkin bertindak melakukan penyimpangan
sosial.

Peran kedua,
ayah sebagai pemimpin dalam keluarga bagi anggota keluarga lainnya. Ayah
tentunya harus mengajarkan pada anak-anaknya kepemimpinan itu seperti apa, baik
untuk anak perempuan maupun anak laki-laki. Terlebih halnya laki-laki yang
musti mengerti cara kepemimpinan dari sosok ayahnya sendiri. Anak belajar
memahami keputusan yang dibuat ayah, hal ini akan berdampak pada pemahaman
kepemimpinan itu penting. Harapannya kelak anak bisa menjadi pemimpin sejati.

Peran ketiga,
ayah sebagai pelindung yang memberikan rasa aman dan nyaman dalam keluarga. kehadirannya
menghilangkan rasa kekhawatitan pada anak-anak yang dapat mengusik kegiatannya.
Bila anak merasa nyaman maka ia dengan bebas mengeksplorasi lingkungan dengan
kreativitas bahkan secara tidak terduga.

Peran keempat,
ayah bisa terlibat dalam pekerjaan ibu seperti memasak, mencuci, bersih-bersih
rumah. Disamping juga meringankan pekerjaan ibu, keterlibatan ayah mampu
menarik perhatian bagi anak-anaknya untuk ikut bekerja sama mengerjakan
pekerjaan rumah. Sehingga anak memiliki pengalaman baru, belajar berinisiatif
dalam mengerjakan pekerajaan. Selama anak belajar bekerjasama tidak menutup
kemungkinan anak mampu mencoba mengerjakan pekerjaan meskipun itu belum pernah
ia lakukan.

Peran kelima,
ayah sebagai teman bermain dan belajar anak. Kehadiran ayah yang tidak mutlkak
ketia mengajak anak-anak keluar rumah, walau sekedar mengajak bermain,
bercanda, untuk menjalin kedekatan dengan mendampingi aktivitas anak-anak.
Kedekatan ayah dan anak mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Sebagian ahli
pendidikan mengatakan jika ayah terlibat dalam aktivitas keseharian anak sejak
dini akan membawa dampak signifikan pada perkembangan otak anak.

 

PENUTUP

 

A.   
Kesimpulan

Kaum LGBT sudah sepantasnya tidak mendapatkan nafas sedikitpun
dalam negri kita tercinta Indonesia, mengingat bahaya yang sudah terjadi pada
sebagian orang. menyukai sesama jenis bahkan melakukan pernikahan sejenis
sangat melanggar aturan terlebih aturan dalam agama Islam. untuk diperlukan
kerjasama dari berbagai pihak agar kaum LGBT tidak terus menyebar dan bertambah
apalagi dilegalkan di negara kita ini.

Diperlukannya edukasi tidak hanya sosialisasi sejak dini dari mulai
keluarga, sekolah dan masyarakat. Terutama orang tua yang memiliki kekuasaan
penuh pada anak-anaknya. Anak-anak perlu mengetahui LGBT itu sendiri, orang tua
tentu perlu memiliki gaya mengajarkan ilmu, tingkah laku kepada anaknya. Agar
mereka merasa mendapatkan kasih sayang seutuhnya. Karena permasalahan LGBT
sering terjadi ketika anak tidak merasa nyaman dirumah sendiri. Sehingga ia
keluar mencari udara bebas yang meskipun itu tidak baik untuk dirinya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ermayani, Tri. Jurnal Humanika, LGBT dalam Prespektif Islam, Th.
XVII, No.1 September 2017. FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Instagram/lambeturah.

Janah, Anwardiani Iftaqul. Peran Ayah Sebagau Significant Other
dalam Pencegahan Terjadinya LGBT Pada Anak Usia Dini
. Jurnal Penelitian
& Artikel Pendidikan.
https://journal.ummgl.ac.id
diakses tanggal 3 Januari 2018. UAD Yogyakarta.

Mawardi dan Hidayati Nur. 2000. IAD-ISD-IBD. Bandung : CV.
Pustaka Setia.

Prakas, Arfan Kurnia. Integrasi Materi Pencegahan PerilakuLGBT
dalam Buku Siswa PAI dan Budi Pekerti Jenjang Sekolah Menengah Atas.
SMAN 5
Yogyakarta, Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol.XIV, No.2, Desember 2017.

Putri, Rizka Ramadhani. Penerimaan Gay dalam Keluarga, FISIP
UNAIR diakses tanggal 2 Januari 2019.

Vembriarto.
1882. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Yayasan Paramita.

 



Source link

  • Bagikan