Dark Riddles: Pendaki Gunung – Variansi.com

Segi Empat

Lima orang pendaki sedang berjuang melawan kuatnya terpaan angin puting-beliung salju yang berusaha menghalangi mereka untuk mencapai ke puncak gunung. Naasnya, salah satu dari mereka mesti gugur dalam pendakian ini, dan meninggal dunia.

Karena keadaan cuaca yang ekstrem, keempat pendaki lainnya terpaksa harus meninggalkan badan temannya yang tewas tersebut.

Mereka berupaya untuk terus melanjutkan perjalanan sebelum gelap datang dan membuat mereka semakin sukar untuk memilih arah. Beruntungnya ditengah perjalanan mereka memperoleh suatu pondok dan memutuskan untuk beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan dikala angin puting-beliung telah reda esok hari,

Pondok tersebut sudah terlihat sungguh renta, tetapi untungnya masih kokoh untuk menahan amukan angin kencang salju di luar. Tapi ternyata mereka terlambat menyadari bahwa pondok tersebut tidak memiliki listrik dan perapian sehingga mereka mesti bertahan di cuaca yang sangat acuh taacuh dengan gelap gulita.

“Sial, aku jadi mengantuk. Jika tertidur di sini kita mampu terkena Hipotermia. Kita tidak boleh diam saja, kita harus menghangatkan diri!” ucap salah satu pendaki.

“Ya, Kau benar, kita mungkin mati jikalau hingga tertidur di kondisi seperti ini”

“Hmmm.. bagaimana jikalau kita melaksanakan sebuah permainan? Agar kita terjaga dan menciptakan tubuh kita lebih hangat.”

“Kurasa itu ide yang manis, Permainan apa?”

“Begini, ruangan ini kan berupa segiempat. Nah, masing-masing dari kita bangun di tiap sudut ruangan. Kemudian, salah satu dari kita berlangsung ke sudut ruangan yang lain lalu menepuk bahu seseorang yang ada di sana. Setelah itu, yang ditepuk pundaknya giliran berlangsung ke sudut yang lain dan melaksanakan hal yang serupa, kemudian begitu seterusnya hingga pagi datang”

Baca Juga  Soal Tes Wawasan Kebangsaan Dan Kunci Jawaban

“Sepertinya Menarik!”

“Tapi kita harus hati – hati berlangsung sebab disini gelap sekali, saya bahkan tidak mampu menyaksikan muka jelek kalian!”

“Kau yang buruk!” ucap mereka kompak.

Permainan pun dimulai. Mereka mulai berjalan perlahan ke setiap sudut ruangan untuk mengambil posisi masing-masing.

Si “A” mulai berjalan ke sudut si “B” dan menepuk pundaknya, kemudian si “B” mulai berjalan ke sudut si “C” dan menepuk pundaknya, sekarang giliran sih “C” yang berlangsung ke sudut si “D” untuk menepuk pundaknya. Si “D” pun lalu berjalan ke sudut si “A” kemudian menepuk pundaknya, dan begitu seterusnya.

Mereka terus melaksanakan permainan itu hingga pagi datang.

Suasana yang damai, angin kencang yang telah reda, dan hawa hangat mampu mereka rasakan, saat matahari mulai menampakan wujudnya. Mereka pun menghembuskan nafas lega,

Cahaya matahari perlahan memaksa masuk lewat sela-sela kayu di pondok tersebut dan mulai menerangi seluruh ruangan. Segera mereka membereskan peralatan dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendakian.

Namun, sesaat dikala mereka ingin meninggalkan pondok tersebut, salah satu dari mereka datang-tiba tampakpucat dan panik.

“Hey!, Apa kamu baik-baik saja?”

“Tidak! Kau tau, per… permainan semalam semestinya tidak pernah kita mainkan!!!”

 

 

Jawaban

Permainan dimulai ketika si “A” berlari ke sudut si “B” dan menepuk pundaknya, kemudian si  “B” mulai berlari ke sudut ruangan si  “C” dan menepuk pundaknya, kini giliran si “C” yang berlari ke sudut si “D” untuk menepuk pundaknya. Sampai disini tidak ada yang ajaib.

Keanehan terjadi ketika si “D” kembali berlari ke sudut si “A” dan menepuk pundaknya.

Permasalahannya adalah si “A” kini berada di sudut “B”, itu memiliki arti seharusnya posisi di sudut “A” itu kosong. Namun nyatanya sih “D” dapat menepuk bahu “Seseorang” di sana dan permainan terus berlanjut sampai pagi hari.

Segi Empat