Pay Later (Kredit) Populer, Kala Konsumerisme (Kapitalis) Teori Jeand Baudrillard

Konsumerisme Adalah Aliran Atau Paham Yang Mengubah Perilaku Seseorang  Pay Later (Kredit) Populer, Era Konsumerisme (Kapitalis) Teori Jeand Baudrillard

Penulis : Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Padang (UNP) Novran Juliandri Bhakti

Trend Belanja Online Melalui Pay Later/Pay Now, Apa Itu ? 

Apa yang kamu ketahui tentang pay now dan pay later dalam transaksi belanja online yang menjadi trend dikala ini. 

Sekilas mengenai pengertian Pay Later merupakan cara pembayaran cicilan yang gampang, cepat serta paling terkenal dikala ini. 

Kemajuan teknologi digital mirip kini membuat banyak sekali kemudahan terhadap masyarakat, dalam bertransaksi. 

Dikutip dari Duwitmu.com, Pay Later adalah akomodasi pembiayaan yang menawarkan penundaan pembayaran, tidak perlu bayar sekarang dan bisa bayar nanti secara mencicil. 

Pembayaran ini mendapatkan penundaan dalam beberapa bulan. Semua transaksi digital, seperti Gojek, Traveloka, Tokopedia, Shopee, dan semua aplikasi online jual beli atau e-commerce, pasti ada pay laternya. 

Fitur baru ini juga bab dari kredit yang biasanya kita peroleh di bank. Namun, cara ini lebih mudah dan cepat di terima ketika mengajukannya. 

Pembayaran yang kini digunakan oleh kebanyakan orang ternyata menimbulkan berbagai urusan sosial. 

Nah, fenomena/gejala sosial tersebut akan kita kaitkan dengan perspektif dan teori sosiologi, yaitu menurut fatwa Jean Baudrillard. 

Dewasa ini kita mampu menyaksikan bahwa banyak hal-hal yang kompleks tentang konsumsi masyarakat, pop-culture yang terus berkembang.

Dan berinovasi membuat sifat konsumtif khalayak kian berkembangdan masif, hal ini mengakibatkan terjadinya sifat pemborosan.

Membeli barang yang tidak bernilai guna yang cuma sekadar membuat puas keinginan keinginan (atau BM= Banyak Mau, bahasa gaulnya). 

Kita tidak mampu menutup mata, di kala digital ketika ini kita sungguh-sangat dimudahkan utamanya dalam hal belanja kebutuhan.

Adanya marketplace online dalam bentuk aplikasi smartphone (baik itu ios atau android), menciptakan kemudahan tersebut hanya dalam genggaman tangan saja. 

Tinggal buka aplikasi, search barang yang ingin dibeli, scroll-scroll jenis dan toko barang yang sesuai, masukan ke keranjang, lakukan pembayaran, dan tamat. 

Barang yang kita dambakan akan sampai dalam beberapa hari oleh pihak jasa antar barang. Belanja online sangat simple, gampang, tidak ribet, banyak promo, ada serpihan harga, tenteram di kantong.

Baca Juga  Buku Sekolah Elektronik (BSE) Kelas 5 (Lima) SD/MI

Kita cuma duduk anggun hingga barang datang ke tempat tinggal. Memang sangat berbeda dengan metode pembelian barang secara konvensional, yang kita mesti datang dan menyaksikan barangnya di toko.

Meskipun kita diberi akomodasi dan hal-hal positif lainnya. Belanja online pasti mempunyai kelemahan. Kekurangan yang saya maksud yakni adanya sistem pembayaran baru, yakni pay later. Banyak usulan pro dan kontra soal pay later, ada yang diuntungkan dengan sistem ini.

Ada juga yang dirugikan dan memberatkan dalam tata cara pembayaran tersebut, temen-temen pasti masih ingat.

Dengan masalah seorang perempuan yang memiliki tagihan pay later di sebuah marketplace sebesar Rp 400 Ribu, membengkak menjadi Rp 17 Juta. 

Sebenarnya ada tujuan yang bagus dalam tata cara pembayaran pay later, yakni digunakan untuk membeli barang ketika kita belum memiliki duit cash baik itu dalam bentuk lembaran duit kertas, ataupun uang/dompet digital.

Pay later sistemnya sama mirip kredit perbankan, kita dipinjamkan uang digital oleh marketplace, kita gunakan, dan akan kita ganti kembali duit tersebut dengan rentang waktu yang sudah disepakati. Bunga yang diperoleh akan membengkak ketika kita terlambat mengeluarkan uang tunggakan pay later tersebut.

Pay Later Era Baru Masyarakat Konsumsi dalam Pandangan Jean Baudrillard

Baudrillard (1998) menyatakan bahwa “kemampuan konsumsi setiap individu ialah berlainan. Setiap penduduk mengalami diferensiasi, diskriminasi sosial, dan disetiap organisasi struktural akan mendasarkan pada penggunaan dan distribusi harta kekayaan. 

Lebih lanjut, rasionalitas konsumsi dalam metode penduduk konsumsi sudah jauh berubah, sebab saat ini penduduk membeli barang bukan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan (needs).

Namun lebih selaku pemenuhan hasrat (desire).” Begitu pendapat Baudrillard yang dikutip dari buku “SOSIOLOGI PERUBAHAN SOSIAL (Perpspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan Poskolonial). Dari pendapat ia, kita mampu menyimpulkan bahwa keperluan setiap orang itu berlawanan-berbeda. 

Perbedaan-perbedaan itu terus terjadi dalam proses pemenuhan keperluan, adanya hierarki sosial menciptakan kian curamnya jurang perbedaan tersebut.

Terlebih lagi adanya distribusi harta kekayaan. Analoginya mirip ini, Andi seorang PNS yang berpenghasilan sebesar 3 Juta/bulan.

Baca Juga  Pembentuk Kelompok Sosial : Aspek, Ciri, Syarat, Karakteristik

Tentu penggunaan dan distribusi kekayaan untuk kebutuhannya mesti dibawah 3 Juta, biar kebutuhan sadang, pangan, papannya terpenuhi. 

Bila ketimbang Ilham yang ialah seorang pengusaha kedai makanan berpenghasilan 30 Juta/bulan, penggunaan dan distribusi kekayaannya akan berlainan dengan Andi. 

Kebutuhan sandang, pangan, dan papannya di atas rata-rata. Inilah yang dinamakan “kesanggupan konsumsi setiap individu berlainan.” 

Semakin tinggi penghasilannya, semakin tinggi pula konsumsinya. Maka dari itu terjadilah diferensiasi dan diskriminasi sosial, yang memperdalam jurang perbedaan antara si kaya (capital) dan si miskin (marginal).

Lalu apa kekerabatan itu semua dengan pay later? Jadi aku menggambarkan pay later selaku bentuk tools (alat) untuk memperdalam jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. 

Rasionalitas seseorang dalam berbelanja dan memakan suatu barang tidak berdasarkan atas kebutuhan yang memang butuh, akan tetapi lebih ke arah menghilangkan keinginan atau BM (Banyak Mau) yang telah disinggung sebelumnya.

Pada kesannya individu yang pada umumnya BM ini, memilih memakai pay later untuk memuaskan hasratnya. 

Hasrat terpenuhi, utang nambah lagi, tak punya investasi, yang balasannya bekerja untuk bayar hutang bukan untuk memperbaiki hidup. 

Seperti usulan Baudrillard bahwa khalayak banyak berbelanja barang atas dasar kehendak (desire) bukan atas dasar keperluan (needs). 

Jika Andi menggunakan uang 3 Jutanya dengan baik, tidak terbius dengan animo, dan tidak terobsesi dengan gaya hidup Ilham.

Maka kebutuhannya akan tercukupi dengan tidak memakai pembayaran Pay Later, lebih baik memakai sistem Pay Now (baik itu transfer via Bank, uang digital, atau COD) dikala berbelanja barang yang diperlukan. 

Bagaimanapun juga kita tidak mampu menutup mata bahwa “kegiatan konsumsi sudah menjadi aspek mendasar dalam ekologi spesies manusia (Baudrillard 1998 [1970]: 25 Dalam Alwi, Nirzalin, Bakti, 2019: 150).” 

Sekarang yang kita lakukan adalah bagaimana menjadi individu dan penduduk yang bijak dan cerdas dalam melakukan kegiatan konsumsi. 

Membeli untuk kebutuhan, bukan untuk cita-cita sesaat. Membeli untuk kelangsungan hidup dan acara, bukan untuk menaikan status sosial dan kelas. 

Baca Juga  SOAL LOMBA CERDAS CERMAT HARI KEMERDEKAAN

Gunakan pay later sekiranya butuh, dan tentukan temen-temen mampu untuk mengeluarkan uang tagihannya. Kalau tidak butuh banget dan penghasilan tidak ada, lebih baik tunda dahulu niat untuk membeli barangnya. 

Menyisihkan penghasilan untuk membeli barang, akan jauh lebih memiliki arti dibandingkan dengan menyisakan penghasilan untuk membayar tunggakan pay later. 

Penjelasan Sekilas Mengenai Konsumerisme Menurut Jeand Baudrillard

Menurut Jeand Baudrillard menyampaikan bahwa konsumersime selaku anak kandung dari kapitalisme yang telah merangsek hingga ke jantung penduduk . 

Perilaku konsumsi dipandang selaku homogenisasi atau heterogenisasi budaya global. Dimana budaya lokal terkooptasi oleh budaya global. 

Era konsumerisme ini menjadi pergeseran perilaku konsumsi yang acap kali dipandang selaku hal yang negatif. 

Teori Konsumsi Baudrillard menjelaskan bahwa masyarakat konsumerisme pada masa kini tidak didasarkan terhadap kelasnya, melainkan pada kesanggupan konsumsinya sendiri. 

Bisa kita lihat, pada perkara PayLater (Pembayaran Kredit Online) yang menciptakan siapa pun mampu melakukan transaksi (konsumsi) dengan bebas, tinggal klik saja telah menerima barang yang diharapkan. 

Lanjut Baudrillard mengatakan bahwa kondisi yang terjadi dalam masyarakat konsumersime terkait pada kondisi yang terkendali dikontrol oleh para pemilik modal. 

Seperti halnya contoh fasilitas derma derma online (Pay Later) diatas. Inilah bab dari sistem pengendalian yang dikampanyekan secara besar-besaran nyaris disemua e-commerce atau aplikasi perdagangan online ada fitur tersebut. 

Era konsumerisme ini menurut Baudrillard dikonseptualisasikan sebagai suatu proses, dimana pembeli sebuah barang terlibat secara aktif. 

Dalam upaya membuat dan menjaga rasa suatu identitas melalui permainan barang/produk yang dibeli. 

Nah itulah sekilas penjelasnya, untuk dapat mempertajam evaluasi kamu, silahkan mencari dan menyertakan referensi bacaan lainnya ya.

Sumber Referensi :

Martono, Nanang. 2014. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.

Bakti, I. S., Nirzalin, N., & Alwi, A. (2019). Konsumerisme dalam Perspektif Jean Baudrillard. Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi), 13(2), 147–166.

https://doi.org/10.24815/jsu.v13i2.15925.

https://duwitmu.com/pertolongan-online/pengertian-paylater-yaitu/ diakses 21 September 2021.

http://jurnal.unsyiah.ac.id diakses 21 September 2021.

http://eprints.binadarma.ac.id/ diakses 21 September 2021.

Sumber Foto : 

https://www.alur.id/viral-cewek-ini-nangis-balasan-tagihan-utang-pay-later-capai-rp-17-juta